Rabu, 16 Desember 2015

Sumber Kata Ida Sang Hyang Widhi Wasa



Sumber kata  Sang Hyang Widhi
OM Swastyastu,
Asal kata Sang Hyang Widdhi
Kata Sang Hyang Widdhi diciptakan pada tahun 1965? Pasti tidak! Kata Ida Sanghyang Widdhi Wasa sudah digunakan dalam Piagam Tjampuhan yang dibuat pada bulan Nopember 1961. Dalam pembukaan Piagam ini disebutkan, versi bahasa Indonesia: : Atas karunia Ida Sanghyang Widdhi Wasa kepada Pesamuhan Agung ini. Versi bahasa Bali : Saking paswetjan Ida Sanghyang Widdhi Wasa ring Pesamuhan Agung piniki.
Lalu dalam butir IV dari Dharma Agama disebutkan : Di dalam Tri-Kayangan harus diadakan Padmasana atau Sanggar Agung sebagai Sthana Ida Sanghyang Widddi Wasa Versi bhs Bali : Sajeroning Tri Kayangan patut kawentenang Padmasana wiadin Sanggar Agung maka Sthana IDA SANGHYANG WIDDHI WASA (aslinya huruf besar).
            Apakah berarti istilah Ida Sanghyang Widdhi Wasa diciptakan oleh para peserta Pesamuhan Agung pada bulan Nopember 1961? Tidak juga. Orang Kristen mengklaim istilah Sang Hyang Widdhi diciptakan oleh missionaries Kristen pada tahun 1930an. Tetapi tidak dijelaskan siapa misionaris yang menciptakan istilah ini.
            Pada waktu itu missionaries Kristen berasal dari tiga bangsa yaitu Belanda, AS, dan China. Siapa dari missionaries ini yang menciptakan istilah Sang Hhyang Widdhi ini. Hebat sekali orang-orang asing ini bisa menciptakan istilah yang begitu mudah diterima oleh penduduk lokal. Yang benar adalah missionaries itu, siapapun mereka, hanya memilih istilah itu dari istilah-istilah yang sudah ada, seperti Sang Hyang Paramakawi, Sang Hyang Tuduh dan Sang Hyang Widdhi, dan mereka memilih yang terakhir, Sang Hyang Widhi (dengan satu d).
            Fred B Eisman, Jr dalam bukunya Bali, Sekala & Niskala mencatat kata Widdhi (Widi) sendiri telah digunakan oleh masyarakat banyak pada waktu itu. Seorang bebotoh yang kalah akan berkata sing la widi (maksudnya sing ngelah widhi artinya tidak punya Tuhan), suatu ungkapan yang biasa digunakan bila seseorang menerima kemalangan. Kata Widi atau Widdhi, tentu tidak lahir dari peristiwa atau pemikiran atau perenungan para bebotoh. Kata ini sudah ada jauh sebelumnya, sehingga para bebotohpun lacar mengucapkannya. Kita dapat mencari asal usulnya di dalam bahasa sansekerta yaitu : Vidya yang memiliki banyak arti antara lain : knowledge, science, learning, scholarship, philosophy. Knowledge juga dipersonifikasikan dan diidentifikasikan dengan Durga (M. Monier illiams : A Sanskrit Engglish Dictionary). Di dalam kamus ini juga ada kata Viddhi yang artinya the act of piercing, perforating (tindakan menembus, melubangi).
Kemungkinan besar orang Hindu di Jawa dahulu mengambil kata Widdhi dari Widya, yang diberi arti Yang Maha Mengetahui. (coba iseng-iseng parhatikan komik Panji Koming di Kompas Minggu, yang menggambarkan masyarakat Majapahit, selalu menggunakan kata Sang Hyang Widdhi). Sedangkan kata Sanghyang atau Sang Hyang sudah ditemukan dalam naskah-naskah kuno seperti Slokantara, dan Wraspati Tattwa (Bali), Centini dan Dandang Gula (Jawa); Sanghyang Siksa Kandang Karesian dan Prasasti Sanghyang Tapak yang berangka tahun 1030 M (Sunda).
Sekarang ada sekelompok orang yang dengan fanatik menolak kata Ida dan Sang para sebutan Ida Sang Hyang Widdhi. Alasannya karena kata Ida dan Sang sudah dipakai nama soroh (sama juga dengan Dewa). Tapi ini alasan emosional yang hanya membikin bingung. Bagaimana dengan kata Widi atau Widhi yang juga sudah banyak dipakai nama orang?
            Kemudian kata Betara. Kita diberi tahu artinya Pelindung, tapi apa dasarnya? Tidak jelas. Dalam kamus sansekerta Inggris tersebut di atas yang terbit pertama kali tahun 1899 dan telah dicetak ulang 16 kali sampai tahun 2000, ada empat lema yang berkaitan dengan kata Betara, yaitu : Bhatta; Bhattaraka; Bhattara; Bhattaaraka (a panjang). Semua kata ini berarti orang yang dihormati, tuan, pangeran, guru. Hanya satu dari kata itu yang mengandung arti Dewa, selain orang; dan kata itu bukan Bhattara. Kata Bhattara sendiri artinya a noble lord atau Pudya, satu gelar kehormatan.
            Sayang sekali bila orang-orang Hindu, terlebih para pemukanya, apakah itu pengurus Parisada para pinandita, bahkan Pandita tidak mengerti asal-usul dan arti dari kata-kata yang begitu sentral dan begitu sering diucapkan baik secara formal maupun informal di kalangan umat Hindu bahkan juga di luarnya.
Om Santih. Santih, Santih Om
NPP.
From: "madra suta" (madra_suta@yahoo.com)
Date: Thu, March 29, 2007 09:56
To: hindu-dharma@itb.ac.id
Source : HDNet
Hindu-Indonesia.com
Data dan Informasi yang disajikan ini merupakan reproduksi dari dokumen aslinya,
berasal dari berbagai sumber. Jika ada karaguan mengenai isi agar
memperhatikan dokumen aslinya.
Copyright 2002-2004, hindu-indonesia.com, Kontak: okanila@okanila.brinkster.net

Sumber Kata Om Swastyastu



Sumber  “Om Swastyastu” Di Dalam Veda

kebangkitan-hindu.blogspot.co.id
OM Swastyastu,
--- Ya Tuhan, semoga Engkau selalu memberikan perlindungan ---
Hampir setiap agama memiliki slogan-slogan seperti itu (slogan di atas), tapi bagi agama Hindu tidak sekedar slogan. Proses kegiatan yang ada dalam agama Hindu adalah berdasarkan Kitab Suci Weda (Sastra Weda), yang mana didalamnya terkandung berbagai cabang Weda sesuai dengan fungsi dan tujuannya, baik yang kelihatannya bersifat material dan juga yang lebih tinggi yang bersifat rohani secara langsung. Namun demikian tujuan dari Weda itu adalah memberikan sarana kepada seluruh umat manusia agar mengerti tentang Tuhan, yang mana Tuhan, siapa diri kita dan bisa berbuat untuk memuaskan Tuhan. Karenanyalah untuk bisa mengerti tentang Weda dan tujuannya, Tuhan menurunkan orang-orang sucinya dalam suatu garis perguruan yang disebut sampradaya, seperti ayat dalam Padma Purana berikut :
sampradaya vihina ye mantras te nisphala matah
atah kalau bhavisyanti catvarah sampradayinah
sri, brahma, rudra, sankara vaisnawah ksiti-pavanah
catvaras te kalau bhavya hy utkale purusottama
“Mantra dalam sloka apapun yang diterima tidak melalui silsilah Guru Kerohanian yang sah dan suci, maka hal itu adalah sia-sia belaka, oleh karena itu, empat pribadi yang maha mulia akan muncul untuk melanjutkan kembali garis perguruan yang hampir putus tersebut, pendiri sampradaya itu adalah Sri Mahalaksmi, Brahma, Rudra, Sanaka Maharsi, itulah yang akan menyelamatkan dunia. Para Acarya yang suci akan menghadirkan mereka di kota suci Purusottama. “
Jadi turunnya ajaran Weda adalah melalui jalur dari sampradaya ini dan tidak satupun ajaran Hindu yang lepas dari sampradaya-sampradaya ini, walaupun ada pengembangan selanjutnya, sehingga terbentuk atau tergabung dengan budaya lokal. Ke-semua sampradaya ini adalah garis perguruan Weda yang dikehendaki oleh Tuhan, karenanya Tuhan mengutus roh-roh yang agung yang merupakan teman intim dari Tuhan, seperti nama-nama yang dijelaskan di atas itu. Sehingga di dalam Hindu ada berbagai jenis garis perguruan yang disebut sampradaya yang merupakan kekayaan bagi Hindu itu sendiri yang dari jaman lampau semua sampradaya ini adalah rukun satu sama yang lain dan saling menghormati. Kitab Suci Weda adalah milik dari semua sampradaya itu. Inilah kelebihan daripada Hindu sehingga Hindu selalu menebar kesejahteraan dan kedamaian bagi setiap makhluk hidup. Satu contoh dimana umat Hindu selalu mengucapkan “Om Swastyastu”. Kata “Om Swastyastu” secara indah telah tertulis dalam Kitab Suci Weda bagian Bhagavata Purana, oleh Rsi Vyasa Deva yang adalah murid langsung Deva Rsi Narada. Deva Rsi Narada murid dan putra dari Dewa Brahma. Dewa Brahma menerima langsung ajaran dari kepribadian Tuhan. Demikianlah Srila Vyasa Deva yang begitu kaliber, bukan manusia biasa tapi beliau adalah seorang mahajana dan saktyavesa avatara, telah mencantumkan swastyastu dalam ayat berikut :
svasty astu visvasya khalah prasidatam
dhyayantu bhutani sivam mitho dhiya
manas ca bhadram bhajatad adhoksaje
avesyatam vo matir apy ahaituki
Artinya :
“Semoga ada keberuntungan yang baik di seluruh alam semesta dan semoga semua orang-orang yang iri dipuaskan. Semoga semua makhluk hidup menjadi tenang dengan mempraktekkan bhakti yoga, karena dengan melaksanakan bhakti, mereka akan berpikir tentang kesejahteraan masing-masing yang lain. Dengan demikian marilah kita semua sibuk didalam pelayanan kepada Tuhan Yang Maha Tinggi, Sri Krishna dan senantiasa tetap khusuk berpikir tentang Beliau. “ (Bhagavata Purana, skanda 5 Bab 18 ayat 9).
(Adhoksaje adalah nama lain dari Sri Krishna).
Dari ayat ini, betapa agungnya dan mulianya Vyasa Deva. Demikian juga betapa agung dan mulianya kualifikasi yang akan dimiliki oleh umat Hindu ketika memberikan salam “Om Swastyastu”, karena kata-kata itu adalah berkat dan hadiah dari Srila Vyasa Deva yang telah menurunkan Kitab Suci Bhagavata Purana. Di dalam Bhagavata Purana ini dijelaskan semua sejarah kegiatan Tuhan yang ada di alam semesta ini. Dengan cara memberikan pelajaran melalui wacana dan contoh-contoh kegiatan daripada Tuhan, penyembah-penyembah Tuhan yang agung dan juga makhluk hidup yang menentang Tuhan.
Jadi Bhagavata Purana adalah salah satu kunci yang utama Kitab Suci Weda. Seperti ayat berikut menjelaskan :
artho yam brahma-sutranam bharatartha-vinirnayah
gayatri-bhasya-rupo sav vedartha-paribrmhitah
Artinya :
“Makna dari Vedanta Sutra disajikan dalam Bhagavata Purana, penjelasan yang penuh tentang Mahabharata juga ada, penjelasan tentang brahma gayatri juga ada, dan merupakan ekspansi sepenuhnya, dari semua pengetahuan Weda. “ ( Garuda Purana, dikutip dari Cc. M. 25.143 )
sarva-vedanta-saram iti srimad-bhagavatam isyate
tad-rasamrta-trptasya nanyatra syad ratih kvacit
Artinya :
Jadi Bhagavata Purana adalah hadiah tiada taranya bagi umat Hindu, dan penulisnya Srila Vyasa Deva adalah kepribadian yang tiada tandingannya di masa kini maupun masa lampau dan masa yang akan datang, yang merupakan rekan Tuhan yang sangat intim, yang turun sebagai jivan mukta, dan saktyavesa avatara dari kerajaan Tuhan yang bernama Vaikuntha. Sejarah rohani Hindu ( itihasa ) khususnya Mahabharata dan Ramayana adalah darah dari munculnya budaya Hindu di berbagai belahan dunia di luar India, khususnya nusantara. Sejarah rohani Hindu Mahabharata ini, ditulis oleh Rsi Vyasa Deva agar di kemudian hari umat Hindu tahu bahwa agamanya adalah sejarah bukan cerita semata. Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna, telah merencanakan semua itu, sehingga ada Mahabharata. Tuhan ada di tengah-tengah Mahabharata, menyabdakan Bhagavad Gita. Betapa agungnya Mahabharata karena sentuhan tangan kasih Tuhan dan para penyembah Tuhan yang agung. Bahkan tidak bisa disamakan dengan para dewa. Bahkan Dewa Rsi Narada bersabda kepada Yudhistira: “Betapa beruntungnya kalian, wahai Para Pandawa bahkan lebih beruntung dari para dewa di surga, karena Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna, senantiasa mendampingimu“. Seluruh dunia memuji keagungan dan merindukan Mahabharata, karena Tuhan Sri Krishna yang amat menarik hadir di sana. Selain itu Hindu terkenal karena Mahabharata dan setiap tempat tirtha yatra yang utama selalu berhubungan dengan Mahabharata.
Budaya Hindu yang di nusantara tumbuh dan berkembang karena diawali oleh siraman dari Mahabharata. Garuda adalah tunggangan dari Sri Krishna sendiri, menjadi lambang dari Negara Indonesia. Namun demikian tolong dimengerti, tidak semua sejarah bisa dianggap itihasa seperti Mahabharata. Karena itihasa adalah sejarah kegiatan rohani dari Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dan para penyembahnya yang agung, karenanya mari kita bersama-sama memperdalam ajaran Hindu agar tujuan sebagai umat Hindu dapat tercapai seperti tujuan agama Hindu, moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Banyak sejarah India dari masa kolonial sampai saat ini tidak bisa disebut sebagai itihasa. Oleh sebab itu maaf, tidak semua sejarah bisa disebut itihasa. Bagi mereka yang tidak bisa menerima itihasa sebagai Kitab Suci, itu terserah kepada masing-masing individu. Setiap orang membawa karma masing-masing dan kita harus mempertanggung jawabkan diri kita dari kelahiran demi kelahiran. Yang pasti kita menjadi umat Hindu yang paling beruntung.
Lebih daripada itu keberuntungan bagi umat Hindu adalah juga persyaratan bagi sebyah agama di Indonesia di penuhi. Salah satunya adalah memiliki Nabhi maka tepat sekali pendahulu kita, memilih Srila Vyasadeva sebagai Nabhi Hindu karena memang beliaulah Maha Rsi di jaman Kaliyuga ini.Srila Vyasadeva turun sebagai Satyavesa Avatara yang khusus di utus dan diberikan sakti untuk mengumpulkan, menulis serta menjabarkan Kitab Suci Weda yang demikian rumit.Tanpa kehadiran beliau Kitab Suci Weda hanya merupakan sebuah cerita-cerita dari mulut ke mulut yang tidak bisa kita tunjukan sebagai sebuah persyaratan dari Agama.
Beliau bernama Krsna Dvaipayana , yang dapat menduduki posisi sebagai Vyasa artinya yang berhak sebagai otoritas utama dari Weda . Sehingga dari jaman yang lampau hari kelahiran beliau di peringati dan di rayakan dengan nama Guru Purnima,umat hindu di seluruh dunia merayakan sebagai wujud Rsi Yadnya yang paling utama,seperti Maulud Nabhi bagi Agama Islam.Untuk menduduki posisi Vyasa adalah bukan manusia biasa tetapi beliau yang turun dari dunia rohani yang merupakan utusan Tuhan untuk turun ke bumi ini.
Marilah kita bersatu-padu bergandengan tangan saling menghormati satu dengan yang lain. Kita memiliki PHDI sebagai lembaga dimana kita bisa berkumpul dan menyatakan diri sebagai umat Hindu, kita mesti junjung tinggi dan kita tempatkan sebagai lembaga yang terhormat. Mari setiap hari kita berperang melawan musuh-musuh yang ada dalam hati kita berupa: nafsu, kemarahan, kebingungan, kelobaan, kemabukan dan iri hati. Agar kesejahteraan lahir bathin selalu tercipta, bukan saja dikalangan umat Hindu, tapi di seluruh umat manusia. Semoga kami dan seluruh umat Hindu menjadi teladan bagi seluruh umat manusia di bumi ini, sehingga seluruh umat manusia tanpa terkecuali, demikian pula binatang dan tumbuh-tumbuhan merasakan damai, sejahtera dan aman dalam kasih Tuhan. Umat Hindu yang paling beruntung adalah dia yamg telah menebar kasih yang mengakibatkan rasa damai, sejahtera dan aman bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali, termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan. Tat Astu.

OM Shanti Shanti Shanti OM
--- Ya Tuhan, semoga Damai di Hati, Damai di Dunia, Damai untuk selamanya ---
Hari Om Tat Sat
skcon-indonesia Sri Sri Krishna Balarama Ashram
Sumber : http://www.hukumhindu.or.id/sumber-salam-om-swastyastu/

Kristen Katolik dan Protestan



PERBEDAAN UTAMA KRISTEN KATOLIK DAN PROTESTAN

PERBEDAAN UTAMA KRISTEN KATOLIK DAN PROTESTAN
Mungkin masih ada yang belum tahu Perbedaan Utama Agama Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Berikut ini adalah perbedaannya :.
1. Kepausan
        Perbedaan mendasar Katolik dan Protestan yang pertama adalah bahwa umat Katolik memiliki Paus, pemimpin tertinggi yang bertahta di Vatikan, Roma. Yang dianggap sebagai Paus pertama adalah St. Petrus, salah satu dari 12 murid Yesus, walaupun semasa hidupnya Petrus tak pernah mendirikan agama, apalagi bernama agama katolik. Sebenarnya Paus pertama agama Katolik bukanlah Petrus. Ajaran Petrus adalah monotheisme sama dengan ajaran Yesus, sedangkan agama Katolik adalah agama polytheisme warisan dari lembaga keagamaan Romawi yang sudah eksis. Sementara Kristen Protestan tidak mengakui atau memiliki pemimpin tertinggi. Hal ini sekaligus memicu perpecahan dan kemunculan Kristen Protestan pada Abad Pertengahan. Saat Paus Leo X ingin membangun gereja termegah sedunia, Basilika St. Petrus di Vatikan, ia mencari dana pembangunan gereja dengan menjual surat Pengakuan Dosa, dengan menjual surat pengakuan dosa. Penjualan Surat pengakuan Dosa ini diprotes oleh Pendeta Martin Luther yang memutuskan memisahkan diri. Mereka yang menjadi pengikut Martin Luther disebut Protestan.

2. Kitab Suci
        Ada perbedaan alkitab suci kristen katolik dan kristen protestan. Kitab suci umat Kristen disebut Bible. Namun Bible menurut Katolik lebih tebal, karena ada tambahan kitab yang dinamakan Deutero-Kanonika. Kitab-kitab tersebut tidak diakui kebenarannya oleh umat kristen Protestan atas doktrin Purgatory, wilayah di antara surga dan neraka, atau disebut Api Penyucian.

3. Denominasi Gereja
        Dalam tradisi Katolik, orang awam dilarang menafsirkan kitab suci selain Magisterium, yaitu para ahli agama yang berpusat di Roma. Umat Katolik di seluruh dunia tinggal mengikuti penafsiran Magisterium. Sedangkan ajaran Protestan membolehkannya. Dua kebijakan berbeda ini berdampak besar. Umat Katolik di seluruh dunia timggal imani saja karena memiliki satu pendapat yang sama tentang kitab suci.  Sedangkan agama protestan membolehkan penafsiran di luar gereja,sehingga terbagi-bagi menjadi beberapa aliran dan denominasi. Sebut saja GPIB, Pantekosta, Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Batak (HKBP), Adven, dst. Jika umat Katolik bisa datang ke gereja manapun di seluruh dunia, maka berbeda dengan umat Protestan yang tidak mau beribadah jika bukan ke gereja yang sama sekte atau denominasinya pendeta kristen protestan.

4. Hirarki Gereja
        Dalam agama Katolik, terdapat hirarki pemuka agama. Dari room atau pastur, uskup, kardinal, dan paus. Ada hirarki dalam gereja katolik, yaitu kapel (gereja kecil), gereja paroki (tempat pastur), katedral (tempat uskup/kardinal), dan basilika (tempat paus). Sedangkan protestan tak memiliki hirarki pemuka agama.

5. Orang Yang Dianggap Kudus (Saint)
       Nama-nama orang yang dianggap Kudus biasanya digunakan sebagai nama gereja Katolik (mis: Gereja Santa Maria dan Gereja Santo Petrus).  Untuk nama baptis, katolik biasanya diakhiri -us: Petrus, Paulus, Fransiskus.  Sedangkan umat Protestan nama baptis menggunakan nama-nama nabi: Abraham, Samuel, Daniel.

6. Sakramen
         Sakramen ialah bentuk upacara suci yang wajib dilakukan umat Kristiani sepanjang hidupnya. Gereja Katolik mengakui 7 sakramen, yaitu Baptis (masuk Kristen), Krisma (diberikan saat menginjak remaja), Ekaristi (yang biasa dilakukan di gereja setiap hari Minggu), Imamat (pentahbisan menjadi pastor), pernikahan, pengakuan dosa, dan pengurapan (diberikan saat sakit parah dan hampir meninggal). Untuk gereja Protestan, hanya mengakui 2 sakramen, yaitu Baptis dan Ekaristi. Sakramen Ekaristi dalam ajaran Protestan tidak dilakukan tiap hari Minggu, cukup pada perayaan hari-hari besar saja.

7. Kerahiban / Biarawan
        Dalam ajaran agama Katolik, hanya laki-laki yang boleh menjadi pastur. Sedangkan dalam Protestan, baik laki-laki maupun perempuan, diberikan hak yang sama menjadi pendeta, meskipun kita lebih sering melihat pendeta laki-laki. Dalam Katolik, wanita yang ingin beribadah penuh seumur hidupnya bagi Tuhan dapat menjadi suster/biarawati. Syarat menjadi suster sama dengan syarat menjadi pastur, yaitu tidak boleh menikah. Seorang suster harus menutup auratnya dan memakai kerudung. Tak ada kerahiban dalam ajaran agama kristen protestan pemimpin katolik berdoa ke berhala maria umat katolik berdoa ke santo / santa 

8. Pengultusan Bu Maria dan para Santo/santa (Orang yang dianggap Kudus)
        Umat Katolik sangat mengkultuskan Bu Maria, ibunya Yesus dan para Santo. Kedudukan mereka sangat dikultuskan. Dalam ajaran Katolik ada rosario, semacam tasbih dengan liontin salib, dan berziarah ke Goa Maria. Sementara umat Protestan menolak pengultusan terhadap Maria dan Santo. Gereja Katolik dihiasi patung-patung Yesus, Bunda Maria, santo/santa, hingga patung malaikat, sebagai pelestarian agama pagan Romawi. (harap diingat, pendiri agama katolik bukanlah Petrus murid yesus, nama Petrus hanya dicatut. Lembaga keagamaan Romawi pagan sudah ada dan inilah yang jadi cikal bakal agama katolik). Sedangkan umat Protestan mengharamkan penggunaan patung karena dianggap berhala. Hanya ada patung berbentuk salib biasa, tanpa tubuh Yesus.

9. Perkawinan
         Pemuka agama Katolik dari pastur hingga paus tidak boleh menikah, harus membujang seumur hidup (selibat) agar umat katolik tahu mereka konsentrasi penuh terhadap ajaran. Tapi ini hanya teori, buktinya tak ada pastur hingga Paus yang dikebiri. Dalam agama Protestan, pendeta diperbolehkan menikah. Dalam agama Katolik, umat hanya boleh terjadi sekali seumur hidup, kecuali jika ditinggal mati pasangannya. Sementara dalam ajaran Protestan dibolehkan bercerai.

10. Peribadatan
        Peribadatan Katolik disebut misa, sementara agama Protestan disebut kebaktian. Kedua agama ini beda dalam hal isi maupun tata cara pelaksanaannya, kendati sama-sama dilaksanakan pada hari Minggu. Umat Katolik berdoa membuat tanda salib dengan telunjuk kanan menyentuh dahi, dada, bahu kiri, bahu kanan, secara urut. Sementara umat Protestan hanya berdoa biasa. Itulah Perbedaan Mendasar Kristen Katolik dan Protestan. Kedua agama tersebut di atas adalah buatan manusia. bandingkanlah dengan ajaran agama yang diajarkan Yesus. 180 derajat perbedaannya.