A.
JUDUL
B. LATAR BELAKANG MASALAH
Proses belajar mengajar jika ditinjau dari segi
pengertiannya adalah suatu proses untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran
dalam rangka mentransfer informasi, pewarisan kebudayaan kepada generasi muda,
serta suatu usaha mengorganisasikan pengetahuannya atau lingkungannya sehingga
menciptakan pengetahuan yang utuh serta pengalaman dalam diri siswa. Maka dari
itu sangat penting diadakannya konsisi belajar yang kondusif , sebab kondisi
yang kondusif akan dapat menyebabkan sisiwa belajar dengan baik untuk mencapai
hasil belajar yang maksimal.
Situasi yang memungkinkan terjadi dalam belajar dan mengajar
dengan mengunakan sumber yang ada adalah siswa dapat berinteraksi dengan
komponen-komponen lain baik terhadap pengalamannya dan lingkunganya secara
optimal, karena setiap siswa yang belaajr adalah selalu mengkaitkan pengetahuan
barunya terhadap pengalaman pengetahuan yang sudah ada dalam pikirannya untuk
mendapatkan suatu tanggapan pemikirannya. Selain dari itu juga siswa dapat
memberikan tangapan terhadap apa yang sudah didapatkan dari hasil perbandingan
pengalaman didalam pemikiran siswa tersebut,. Dapat berinteraksi saat proses
pembelajaran berlangsung, dapat berkomunikasi dengan teman-temannya dalam
belajar serta dapat menyimpulkan sendiri pengetahuan yang sudah didapatkannya
tersebut.
Sebagaimana seperti yang telah dipaparkan diatas pendidikan
dalam konteks belajar mengajar atau proses pembelajaran tidak bisa lepas dari
sumber belajar sebagai dasar dalam menambah pengalaman bagi siswa dan sebagai
bahan ajar untuk disampaiaan kepada siswa.. Namun kenyataan dalam dunia
pendidikan saat ini cenderung semakin tidak memperhatikan hal tersebut,
terkadang guru mengajar di dalam kelas hanya mengunakan pengalaman
kesehariannya tanpa ada pembuktiaan secara ilmiah di suatu penelitian yang
dapat dipertanggung jawabkan. Selain dari itu guru juga selalu mengunakan
sumber belajar yang mana sumber tersebut sudah tidak dipergunakanm secara umum
disekolah-sekolah atau buku lama yang masih tetap digunakan sebagai acuan
mengajar. Sehingga dengan prilaku guru yang demikian akan menyebabkan respon
dan hasil belajar siswa tidak meningkat secara umum. Siswa belum bisa
mengkait-kaitkan pengalaman dan pengetahuannya yang didapat sebelumnya dan pada
saat proses pembelajaran berlangsung karena sumber yang digunakan tidak mengena
bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan.
Begitu juga dalam halnya proses pembelajaran yang ada di SD
Negeri I Tanjung Benoa masih belum seperti yang diharapkan seperti tujuan
pendidikan, Karena selama ini seperti apa yang diperoleh mengenai kesan di
lapangan bahwa tingkat prestasi belajar siswa kelas V masih belum dirasakan
mencapai suatu ketuntasan dan hasil belajar khususnya Pembelajaran Agama Hindu
yang belum memenuhi standar ketuntasan belajar serta hasilnya belum makasimal.
Selain dari itu, masalah yang timbul dari hasil belajar yang belum mencapai
tujuan dikarenakan kurang ketertarikan siswa dalam mengikuti proses belajar
mengajar khususnya Pendidikan Agama Hindu sebab siswa merasa susah memahami
materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Sehingga siswa merasa bosan dan
enggan mengikuti pembelajaran atau siswa didalam kelas tidak mengikuti alur
pembelajaran sehingga semua yang dijelaskan oleh guru tidak ada dimengerti. Hal
ini dilihat dari hasil belajar siswa dalam ujian semester masih rendah masih
banyak yang dinyatakan belum tuntas.
Kurangnya respon adalah penyebab utama yang mempengaruhi
hasil belajar yang di inginkan, banyak siswa pada saat jam pelajaran memilih
bermain-main, bercanda, dan mengerjakan tugas lainnya, siswa lebih tertarik
pada pelajaran lainnya, serta tidak memperhatikan guru didepan. Sehingga hasil
yang didapat dari ujian semester pendidikan Agama Hindu selalu belum mencapai
ketuntasan belajar sehingga kegiatan remedial sering dilakukan oleh guru
pendidikan agama Hindu.
Berdasarkan fenomena-fenomena yang ada diatas, maka sangat
perlu pemecahaan masalah yang serius dalam penangananya, maka dari itu
penelitian ini dimaksudkan untuk dapat memberikan pemecahan masalah yang ada di
SD Negeri I Tanjung Benoa untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama
Hindu. Oleh karena itu pemecahaan masalah yang terjadi tersebut, menitik
beratkan pada proses pembelajaran yaitu belajar mengunakan berdasarkan sumber
atau “REUSOURCE – BASED LEARNING”. Penerapan metode ini pada prinsipnya
adalah suatu metode dimana segala bentuk pelajaran yang berlangsung
menghadapkan siswa dengan suatu atau sejumlah sumber belajar secara indvidual
ataupun kelompok dengan segala kegiatan belajar yang bertalian dengan itu.
Penerapan ini sejak dulu selalu digunakan dimana para guru mengajar mengunakan
pedoman buku-buku sebagai bahan acuan dalam kelas, proses pembelajaran seperti
ini dimana seorang guru aktif mengajar dengan mengunakan berbagai fasilitas
untuk menunjang pembelajaran seperti media visual, perpustakan, museum dan lain
sebagainya. Dengan demikian cara belajar seperti ini akan meningkatkan motvasi
siswa untuk belajar dan rasa keingintahuannya meningkat serta dapat mengaitkan
pengalamanya menjadi suatu kesimpulan dalam pemikirannya.
Maka
dari prinsip mulia diatas penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
kepada peningkatan respon dan hasil belajar siswa yang maksimal, karenanya
penelitian ini tindakan kelas (PTK) ini memfokuskan pada suatu metode yang
disebut PENERAPAN METODE RESOURCE-BASED LEARNING DALAM PELAJARAN AGAMA
HINDU UNTUK MENINGKATKAN RESPON DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V SD
NEGERI I TANJUNG BENOA KECAMATAN KUTA SELATAN, KABUPATEN BADUNG TAHUN PELAJARAN
2014/2015.
C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan
dari latar belakang masalah yang diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana respon siswa kelas V SD
Negeri I Tanjung Benoa dengan penerapan metode Resource-Based Learning
dalam pelajaran agama Hindu untuk meningkatkan hasil belajar siswa
kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung
tahun pelajaran 2014/2015?
2. Bagaimana tanggapan kelas V SD
Negeri I Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung tahun pelajaran
2014/2015 tentang penerapan metode Resource-Based Learning dalam
pelajaran agama Hindu?
D. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui respon V SD Negeri
I Menyali pada saat penerapan metode Resource-Based Learning
dalam pelajaran agama Hindu untuk meningkatkan hasil belajar siswa
kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung
tahun pelajaran 2014/2015.
2. Untuk mengetahui tanggapan kelas V
SD Negeri I Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung tahun
pelajaran 2014/2015 tentang penerapan metode Resource-Based Learning
dalam pelajaran agama Hindu.
E. MANFAAT PENELITIAN
1.
Manfaat
Teoritis
Hasil penelitian ini dapat menambah
wawasan kepada guru pendidikan agama Hindu tentang penerapan metode Resource-Based
Learning dalam pelajaran agama Hindu untuk meningkatkan
respon dan hasil belajar dimana diharapkan dapat dipakai sebagai
acuan bagi pengembangan strategi pembelajaran khususnya dalam pembelajaran
Pendidikan agama Hindu.
2.
Manfaat Praktis
a.
Bagi guru Agama Hindu, penelitian
ini dapat dijadikan masukan, acuan, dan pedoman yang bersifat tambahan untuk
diterapkan, dikembangkan dala pembelajaran agama Hindu sesuai kondisi di SD
Negeri I Tanjung Benoa.
b. Bagi siswa dapat memberikan
pengetahuan dan pengalaman dalam hal memahami pelajaran agama Hindu.
c.
Bagi sekolah sebagai bahan masukan
dalam mengembangkan metode-metode pembelajaran khususnya dalam mata pelajaran
Agama Hindu, bagi siswa kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa. d. Bagi jurusan
pendidkan agama Hindu penelitian ini dapat dijadikan sebagai alternatif acuan
untuk mengevaluasi tingkat pengembangan pembelajaran agama Hindu yang selama
ini dibelajarkan pada mahasiswa ditingkat jurusan sehingga diharapkan akan bisa
memunculkan motivasi bagi mahasiswa jurusan pendidikan agama Hindu khususnya
untuk terus mengembangkan penelitian dibidang yang sama, walaupun dengan
menerapkan metode dan strategi pengajaran yang berbeda.
F. KAJIAN PUSTAKA
I Ketut Kanianta (2000) dalam
Skripsinya yang berjudul “Penerapan Beberapa Metode Mengajar dan Media
Pengajaran Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Pada Bidang
Studi Plambing dalam pembelajaran menyambung Pipa Galvanis di Kelas 1 Semester
I Jurusan Bangunan Gedung Sekolah Menengah Jurusan Negeri 3 Singaraja Tahun
Pelajaran 2000/2001. Menyatakan bahwa penerapan beberapa metode mengajar dan
media pengajaran dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa dengan persentase
aktif sebesar 82,97%. Dan persentase hasil belajar siswa sebesar 82%.
Kaitannya
dengan penelitian yang dilaksanakan penelitian diatas dapat digunakan dalam hal
memahami pengunaan beberapa metode dalam mengajar dan media dalam pengajaran
untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dimana dalam penelitian
ini mengunakan metode Resource-Based Learning pada kelas V SD Negeri I
Tanjung Benoa tahun pelajaran 2014/2015.
Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Ni Luh Yuliani (2005) tentang Penerapan Metode
Pemecahan Masalah dan Media Permainan Dalam Meningkatkan Keaktifan dan hasil Belajar
Matematika Kelas V Semester II Tahun Pelajaran 2004/2005 SD Negeri 4 Pamecutan
Kecamatan Denpasar Barat, menunjukkkan bahwa dengan penerapan metode pemecahan
masalah ternyata dapat meningkatkan keaktifan pada saat proses pembelajaran di
kelas. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian terhadap keaktifan belajar
pada siklus pertama sebesar 77,20% yang berada pada kategori cukup aktif dan
mengalami peningkatan pada siklus kedua menjadi 89,20% dengan kategori aktif.
Selain meningkatkan keaktifan siswa metode ini juga meningkatkan hasil belajar
siswa. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian terhadap hasil belajar siswa
pada siklus pertama sebesar 68,25% yang berada pada kategori sedang dan
mengalami peningkatan pada siklus kedua menjadi 79,83% dengan kategori tinggi.
Berdasarkan apa yang telah diuraikan diatas, maka penelitian
ini akan mencoba membahas permasalahan yang terjadi di kelas V SD Negeri I
Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung tahun pelajaran
2014/2015, penerapan metode Resource-Based Learning dalam pelajaran agama
Hindu yang diterapkan dalam penelitian ini berupaya meningkatkan respon dan
hasil belajar pendidikan agama Hindu kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa
Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2014/2015
G. LANDASAN KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
Konsep merupakan salah satu syarat yang
harus ada dalam kegiatan penelitian, atau penulisan karya ilmiah. Hal ini,
disebabkan konsep mampu menggambarkan sejumlah Variabel terhadap topik yang
diteliti. Konsep juga dipakai menjabarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya dan
dibandingkan dengan penelitian yang akan dilaksanakan, guna menjawab
permasalahan yang akan diteliti (Juliari, 2007:10). Konsepsi artinya
pengertian, pendapat, paham, rancangan, atau cita-cita yang telah ada dalam
pikiran (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke III, 2001:588).
1. Metode Resource-Based Learning
Dengan “Resourse-Based Learning” dimaksudkan segala bentuk belajar yang
langsung menghadapkan murid dengan suatu atau sejumlah sumber belajar secara
indvidual atau kelompok dengan segala kegatan belajar. Guru bukan
merupakan sumber belajar satu-satunya, tetapi murid dapat belajar dalam kelas,
dalam laboraturium, perpustakaan, dalam ruang Sumber belajar yang ada di luar
sekolah (Nasution, 1982:18).
Dalam metode itu sangat memeberikan
perubahan besar yang ditimbulkan yakni antara lain pentingnya peranan ahli
perpustakaan dan mereka yang memproduksi bahan media atau sumber belajar
seperti buku-buku dan lain sebagainya.
a.
Latar Belakang Resourse-Basel
Learning
Belajar
berdasarkan sumber atau “resourse-based learning” bukan sesuatu yang
berdiri sendiri, melainkan bertailan dengan sejumlah perubahan-perubahan yang
mempengaruhi pembinaan kurikulum, perubahan-perubahan itu mengenai:
1) Perubahan dalam sifat dan pola ilmu pengetahuan manusia.
2) Perubahan dalam masyarakat dan tafsiran kita tentang
tuntutannya.
3) Perubahan tentang pengertian tentang anak dan cara belajar.
4) Perubahan dalam media komunikasi.
b. Ciri-ciri belajar berdasarkan sumber
1) Belajar Berdasarkan Sumber (BBS) memanfaatkan sepenuhnya
segala sumber informasi sebagai sumber bagi pelajar termasuk alat-alat
audio-visual dan member kesempatan untuk merencanakan kegiatan belajar dengan
memepertimbangkan sumber-sumber yang tersedia. Ini berarti bahwa pengajar tidak
seperti kuliah dengan ceramah semata melainkan segala metode yang cocok
digunakan.
2) BBS (Belajar Berdasarkan Sumber) berusaha memberi pengertian
kepada murud tentang luas dan aneka ragamnya sumber-sumber informasi yang dapat
dimanfaatkan untuk belajar. Sumber-sumber utu berupa sunber dari masyarakat dan
lingkungan berupa manusia, museum, organisasi, dan lain-lain, bahan cetakan,
perpustakaan, alat audio-visual dan sebagainya. Mereka harus diberikan
pengetahuan tentang bagaimana cara mengunakan perpustakan, buku refrensi
sehingga mereka lebih percaya akan diri sendiri dalam belajar.
3) BBS (Belajar Berdasarkan Sumber) berhasrat untuk menganti
fasifvitas murid dalam belajar tradisional dengan belajar aktif didorong oleh
minat dan keterlibatan diri dalam pendidikanya.
4) BBS berusaha untuk meningkatkan motvasi belajar dengan
menyajikan berbagai kemungkinan tentang bahan pelajaran, metode kerja, dan
medium komunikasi, yang berbeda sekali dengan kelas yang konversional yang
mengharuskan murid-murid belajar yang sama dengan cara yang sama.
5) BBS memberi kesempatan kepada murid untuk bekerja menurut
kesempatan dan kesangupan masing-masing dan tidak dipaksa.
6) BBS lebih fleksibel dalam pengunaan
waktu dan ruang belajar.
7) BBS berusaha mengembangkan kepercayaan akan diri sendiri
dalam hal belajar yang memungkinkannya untuk melanjutkan belajar sepanjang
hidupnya.
Belajar
berdasarkan sumber tidak meniadakan peranan guru, atau guru hanya diam dan
bermalas-malasan, membiarkan murid begitu saja, tetapi guru terlibat dalam
setiap langkah proses belajar, dari perencanaan, penentuan dan mengumpulkan
sumber-sumber informasi, memberi motvasi, member bantuan apabila diperlukan.
Gurulah yang mengusahakan adanya keseimbangan anatar waktu untuk belajar
sendiri, belajar dalam kelompok dan berdiskusi, member informasi dan member
penjelasan secara langsung dengan metode ceramah.
Dalam
pelaksanan guru harus kerja sama dengan ahli perpustakaan yang lebih mengenal
sumber-sumber bacaan yang ada.. selain itu juga kerja sama dengan guru lain
yang mempunyai keahlian dan pengalaman masing-masing didalam dan diluar sekolah
yang dapat disumbangkan kepada murid dalam rangka belajar berdasarkan sumber.
c.
Pelaksanaan belajar “Resourse-Based
Learning”
“Resourse-Based
Learning” adalah cara belajar yang bermacam-macam bentuk dan segi-seginya.
Metode ini dapat singkat atau panjang, berlangsung selama satu jam atau selama
satu semester dengan pertemuan dua kali seminggu itu bisa disepakati
karena belajar model ini tidak terikat oleh waktu. Dalam pelaksananya dapat
mengunakan audio-visual yang dapat diamati oleh indvidu atau kelas. Jika dalam
belajar berdasarkan sumber diutamakan tujuan untuk mendidik murid menjadi seorang
yang sanggup belajar dan meneliti sendiri, maka ia harus dilatih untuk
menghadapi masalah-masalah yang terbuka bagi jawaban-jawaban yang harus
diselidiki kebenaranya berdasarkan data dari berbagai sumber.
Dalam
pelaksanaan cara belajar ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Pengetahuan yang ada, ini mengetani pengetahun
guru tentang latar belakang murid dan pengetahuan murid tentang bahan
pelajaran.
2) Tujuan pelajaran, guru harus merumuskan dengan jelas tujuan apa yang ingin
dicapai dengan pelajaran itu. Dimana tujuan itu turut menentukan metode yang
akan digunakan.
3) Memilih metodologi. Metodologi pelajaran banyak ditentukan oleh tujuan.
Biasannya metode itu mengandung unsur:
(a) Uraian tentang apa yang akan dipelajari
(b) Diskusi dan pertukaran pikiran
(c) Kegiatan-kegiatan yang mengunakan berbagai alat
intruksional, laboraturium dan sebagainya.
(d) Kegiatan diluar sekolah seperti kunjungan, kerja lapangan,
esplorasi dan penelitian.
(e) Kegiatan dengan mengunakan sumber seperti buku perpustakan,
alat audio visual dan lain-alain.
(f) Kegiatan kreatif seperti drama, seni rupa, musik dan
pekerjaan tangan.
4) Koleksi dan penyediaan bahan, dalam hal ini guru dapat
menyediakan atau membantu murid untuk memenuhi bahan belajarnya pada
perpustakaan disekolah, memperbanyak bahan, dengan memeprsiapkan alat-alat
kegiatan kreatif lainnya.
5) Penyediaan tempat, dalam belajar penyediaan tempat
disekolah dipergunakan seperti laboraturium, perpustakan, ruang kesenian, olah
raga dan lainya, untuk melakukan kegiatan murid. Dalam pelajaran ini, peran
guru bermacam-macam ada kalanya ia perlu memberi penjelasan kepada semua murid,
atau sebagai pemimpin seminar dan sebagai anggota seuatu kelompok.
Pelajaran ini tidak mengutamakan
bahan pelajaran yang harus dikuasai, tidak mengharuskan murid-murid menguasai
bahan yang sama, akan tetapi mementingkan kemampuan meneliti, mengembangkan
minat, konsep-konsep penguasaan berbagai keterampilan termasuk keterampilan
berpikir kritis dan lain sebagainya.
2. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemapuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan
belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seorang yang berusaha
untuk memperoleh suatu bentuk prilaku yang relatif menetap (Abdurahman, 1999 :
37).
Menurut Bloom (dalam Abdurahman 1999 : 38) ada tiga ranah hasil belajar yaitu
kognitif, afektif, dan psikomotorik, sedangkan Abdurahman (1999) mengemukakan
bahwa hasil belajar merupakan keluaran dari suatu sistem pemrosesan masukan.
Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan
keluarannya adalah kinerja atau perbuatan.
Secara garis besar Arikunto (1993 : 211) mengemukakan faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil belajar dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu yang bersumber
dari dalam diri manusia yang disebut faktor internal, dan faktor yang bersumber
dari luar diri manusia yang belajar yang disebut dengan faktor eksternal.
a.
Faktor yang berasal dari dalam diri
manusia dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu faktor biologis dan
psikologis. Yang termasuk faktor biologis adalah usia, kematangan dan
kesehatan. Sedangkan yang termasuk sebagai faktor psikologis adalah kelelahan,
suasana hati, motVasi, minat dan kebiasaan belajar.
b. Faktor yang bersumber dari luar diri
manusia yang belajar dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu faktor manusia
(human) dan faktor non manusia seperti alam, benda, hewan, dan lingkungan
fisik.
Untuk lebih jelasnya faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat di
lihat dalam gambar berikut.
DIAGRAM. 1
Hasil
Belajar
|
Faktor
Internal
Biologis
: Usia
Kematangan
Kesehatan
Psikologis
: Minat
Motvasi
Suasana hati
|
Faktor
Eksternal
Manusia
: di keluarga
Di sekolah
Di masyarakat
Non
Manusia : Udara
Suara
Bau-bauan
|
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL BELAJAR
(Diagram II.1 Sumber : Arikunto, 1993)
Suryabrata (1982 : 27) juga mengemukakan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
hasil belajar yaitu ada dua faktor, faktor luar dan faktor dalam.
Faktor luar dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor lingkungan dan faktor
instrumental.
a.
Faktor lingkungan terdiri dari
lingkungan alam dan lingkungan sosial. Lingkungan alam seperti keadaan suhu,
kelembaban udara dan suasana tempat belajar. Lingkungan sosial seperti tempat
tinggal, teman bergaul, dan tatanan pembangunan yang dapat menganggu
konsentrasi belajar yang berpengaruh terhadap hasil belajar.
b. Faktor instrumental adalah faktor
yang penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan.
Faktor ini berfungsi sebagai sarana untuk mencapai tujuan belajar yang
direncanakan. Faktor ini tersiri dari kurikulum, program, sarana dan fasilitas,
serta guru.
Faktor dari dalam dapat dibagi menjadi dua yaitu fisiologis dan psikologis.
a.
Faktor fisiologis seperti kondisi
fisiologis secara umum dan keadaan panca indra. Kodisi fisiologis pada umumnya
sangat berpengaruh pada hasil belajar seseorang. Orang yang keadaan segar
jasmaninya akan berlainan hasil belajarnya dengan orang yang kelelahan, hal ini
yang tidak kalah pentingnya adalah kondisi panca indra terutama pengelihatan
dan pendengaran karena sebagian besar yang dipelajari manusia menggunakan
pengelihatan dan pendengaran.
b. Faktor psikologis seperti minat,
kecerdasan, bakat, motvasi dan kemampuan kognitif. Minat merupakan kecendrungan
terhadap suatu obyek atau aktvitas yang menimbulkan perasaan senang yang dapat
mempengaruhi hasil belajar. Motvasi merupakan daya dalam diri seseorang yang
mendorong untuk berbuat atau merupakan suatu pendorong yang ada pada
manusia untuk melakukan kegiatan tertentu seperti berpartisipasi dalam proses
belajar mengajar di kelas sehingga berpengaruh pada hasil belajar. Orang yang
lebih cerdas pada umumnya akan mampu belajar daripada yang kurang cerdas. Bakat
merupakan faktor yang mempengaruhi hasil belajar seseorang yang belajar sesuai
dengan bakatnya akan cenderung mendapatkan hasil belajar yang lebih baik.
a. Pendidikan Agama Hindu
Kurikulum Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Dasar (2004) dinyatakan bahwa
pendidikan Agama Hindu adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam
memahami, meyakini, menghayati dan mengamalkan ajaran Agama Hindu sebagai wujud
pengamalan Pancasila, melalui bimbingan pengajaran dan latihan dengan
memperhatikan tuntunan saling hormat menghormati antar umat beragama dalam
kehidupan bermasyarakat, untuk mewujudkan persatuan Nasional.
b. Fungsi Pendidikan Agama Hindu
Pembaharuan yang dilakukan di dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan agama
Hindu tidak saja merupakan hal yang bersifat teoritis, tetapi juga hal-hal yang
menyangkut masalah teknis, terutama masalah teknis pengajaran yang dituntut
semakin berkembang pula sesuai dengan kebutuhan anak didik, terlebih lagi bagi
dunia pendidikan di era milenium seperti sekarang ini. Secara rasional dapat
digambarkan bahwa kehidupan manusia di awal melinium ketiga dewasa ini telah
mengalami banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan.
Usaha merespon fenomena yang terjadi, dunia pendidikan khususnya terus memacu
diri dalam usaha mengembangkan usaha pendidikan yang relevan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan lainnya. Namun dibalik pemebaharuan yang
dilakukan oleh dunia pendidikan, justru dunia pendidikan mendapatkan hambatan,
tantangan, dan godaan yang amat dahsyat, terutama dengan munculnya berbagai
kasus dalam bentuk krisis moral para peserta didik dengan berbagai kejadian
yang amat mencoreng Dunia pendidikan. Akibatnya khalayak ramai menimpakan
kesalahan ini kepada pendidikan agama yang semestinya bisa memberikan
kontribusi dalam menanamkan konsep nilai dan norma, serta nilai mental
spiritual menjadi dipertanyakan oleh masyarakat.
Sehubungan dengan pembahasan di atas, maka begitu pentingnya pendidikan agama
diberikan di sekolah sebagai salah satu sentra pendidikan di samping pendidikan
penunjang lainnya, seperti pendidikan keluarga dan pendidikan masyarakat.
c. Tujuan Pendidikan Agama Hindu
Petunuk teknis Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar mata Pelajaran Pendidikan
Agama Hindu di Sekolah Dasar (2004) menekankan bahwa : Tujuan mata pelajaran
pendidikan agama Hindu di Sekolah Dasar adalah membina siswa agar dapat
memahami, mengahayati dan mengamalkan ajaran agama Hindu dengan baik, sehingga
siswa memiliki moralitas yang tinggi, berbudi pekerti yang luhur, taqwa dan
bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sadar terhadap hakikat hidup
dan kehidupannya, berfikir yang filosofis, strategis dan dinamis, mampu
mengembangkan dan menghargai kerjasama dengan orang lain serta dapat mencapai
kesejahteraan hidup lahir dan bhatin.
1) Tujuan Umum Pendidikan Agama Hindu
Tujuan umum pendidikan agama Hindu adalah merupakan tujuan setiap agama dan
juga pada setiap agama yang ada di Indonesia. Tujuan umum ini untuk seterusnya
dijabarkan dan dipakai acuan ke dalam tujuan yang ada pada masing-masing agama.
Secara umum tujuan agama adalah membentuk siswa yang berima dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berkahlak serta berbudi pekerti yang luhur yang tercermin
melalui kehidupan sehari-hari di masyarakat, melalui pengamalan agama
masing-masing.
Bertitik tolak dari pengertian dan fungsi pendidikan agama yang telah diuraikan
di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya pendidikan agama Hindu
adalah suatu usaha atau upaya yang ditempuh untuk membina pertumbuhan pribadi
yang mulia, baik yang berlangsung di lingkukngan keluarga maupun di lingkungan
sekolah sebagai pendidikan formal. Sedangkan jika dilihat dari fungsinya, maka
pendidikan agama Hindu disamping untuk meningkatkan ketaqwaan atau sradha
bhakti serta meningkatkan keimanan para siswa juga menyalurkan para siswa
untuk bisa mendalami bidang pendidikan agama Hindu dalam rangka memperbaiki
kesalahan-kesalahan penanaman konsep agama di dalam kehidupan siswa sehari-hari
di masyarakat.
2) Tujuan Khusus Pendidikan Agama Hindu
Dari tujuan umum, pengertian dan fungsi pendidikan agama Hindu di atas
sebenarnya telah tersirat apa yang menjadi tujuan khusus pendidika agama Hindu,
di samping untuk membentuk para siswa agar meiliki pribadi yang mulia juga
membentuk sikap susila siswa untuk selanjutnya memiliki rasa bhakti trerhadap
Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini ditegaskan
pula oleh pendapat Pudja (1985 : 9) bahwa pendidikan agama Hindu tidak hanya
sekedar mengisi atau memindahkan pengetahuan agama yang dianutnya semata-mata,
tetapi lebih jauh daripada itu dalah untuk meningkatkan ketaqwaan dan dharma
bhaktinya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa.
Selanjutnya Pendit (1983 : 14) menekankan bahwa pendidikan agama Hindu harus
mampu membangun anak didik menjadi manusia yang mengerti, menghayati dan dapat
merefleksikan pengetahuan yang dimiliki ke dalam cara berfikir, ucapan dan
tindakan sehari-hari dalam lingkungan sekolah sebagai lingkungan terkecil atau
primer, tempat menggali pengetahuan, begitu pula dalam lingkungan yang lebih luas
yaitu masyarakat dimana anak itu berinteraksi.
Mata pelajaran pendidikan agama Hindu adalah mata pelajaran agama yang
pengajarannya menitik beratkan kepada pembentukan sikap mental yang baik.
Kurikulum Pendidikan Dasar (2004) menekankan tentang tujuan pendidikan agama
Hindu yang diharapkan dapat tercapai adalah :
(1)
Siswa memiliki pengetahuan dan
keyakinan agama Hindu serta mampu melaksanakan konsep ajaran agama Hindu dalam
kehidupan sehari-hari yang dicerminkan dengan sikap taqwa kepada Ida Sang
Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa, saling menghormati dan kasih
sayang sesama umat manusia. (2) Membentuk manusia yang utuh, susila dan
bijaksana yaitu manusia yang dapat menghayati hakikat kehidupan ini (yang penuh
dengan tantangan dan penderitaan), juga membentuk manusia yang mengetahui
sebaqb musabab terjadinya penderitaan dan manusia yang yakin bahwa betapapun
bentuk enderitaan akan dapat dilenyapkan, karena telah diketahui jalan yang
dapat membebaskan manusia dari penderitaan itu, (3) Dengan menghayati dan
mengamalkan ajaran agama Hindu diharapkan siswa dapat ditingkatkan kesadaran
beragamanya. Melalui pendidikan agama Hidu dapat pula ditanamkan kesadaran
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Untuk membentuk manusia Hindu yang
bersusila serta memiliki iman taqwa atau sradha bahati yang tinggi
dibutuhkan adanya pendidikan agama Hindu, sehingga melalui pemahaman pendidikan
agama Hindu yang benar akan menjadikan para siswa manusia yang bersusila dan
(4) Pengetahuan yaitu untuk menangkal hal-hal yang negatif dari lingkungannya
atau budaya aasig yang dapat membahayakan diri siswa serta menghambat
perkembangan siswa menuju Indonesia seutuhnya serta (5) Penyesuaian, yaitu
menyesuaikan diri dengan lingkungan fidik maupun lingkungan sosial sesuai
dengan ajaran agama Hindu dan (6) Sumber nilai, yaitu memberikan pedoman untuk
mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat lahir dan bhatin. (Tim Penyusun, 2004
: 3).
Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang menjadi tujuan khusus
pendidikan agama Hindu yang diharapkan dapat tercapai melalui kurikulum
pendidikan agama Hindu adalah :
(1) Siswa memiliki pengetahuan dan
keyakinan agama serta mampu menerapkan konsep ajaran agama Hindu dalam
kehidupan sehari-hari yang tercermin dlam sikap taqwa kepada Ida Sang Hyang
Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa, melalui sikap saling hormaqt
menghormati, kasih sayang terhadap semua mahluk ciptaan Tuhan dan sebagainya.
(2) Membentuk manusia seutuhnya, susila
dan bijaksana yaitu manusia yang dapat menghayati hakikat kehidupan ini yang
penuh dengan berbagai tantangan serta penderitaan, serta mengetahui sebab
musabab terjadinya penderitaan itu akan dapat dilenyapkan, karena telah
diketahui jalan yang dapat membebaskan mausia dari penderitaan.
(3) Dengan mengayati dan mengamalkan
ajaran agama Hindu, diharapkan siswa dapat ditingkatkan kesadaran beragamanya,
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pendidikan agama Hindu
merupakan penuntun dan pedoman dalam menuntun sikap mental dan kepribadian yang
baik, dalam kehidupan pribadi maupun dalam hubungannya dengan masyarakat,
bangsa dan negara, serta alam sekitarnya (Tim Penyusun, 1999 : 21).
Pendapat di atas didukung pula oleh pendapat yang dihasilkan berdasarkan
Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu (1986 : 24) yang menyatakan
bahwa tujuan pendidikan agama Hindu di sekolah adalah sebagai berikut (1)
membentuk manusia yang Pancasilais dan astiti bhakti, (2) membentuk
moral etika dan spiritual anak didik yang sesuai dengan ajaran Agama
Hindu .
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa apa yang menjadi tujuan
pendidikan agama Hindu jika dihubungkan dengan tujuan pendidikan secara umum
akan menjadi selaras dan relevan. Dari rumusan tujuan pendidikan di atas
nantinya secara hirarki dijabarkan ke dalam tujuan institusional (tujuan
lembaga pendidikan) ke masing-masing mata pelajaran yang nantinya secara
specifik dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler mata pelajaran, sehingga
nantinya apa yang menjadi tujuan kurikulum dapat dijabarkan lagi secara lebih
specifik.
d. Pendidik atau Guru Pendidikan Agama
Hindu
Guru memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar. Guru sebagai
pendidik atau pengajar merupakan faktor penentu kesuksesan setiap usaha
pendidikan. Itulah sebabnya setiap perbincangan mengenai pembaharuan kurikulum
pengadaan alat-alat belajar sampai kepada kriteria sumber daya mausia yang
dihasilkan oleh usaha pendidikan selalu bermuara pada guru.
Hal ini menunjukkan bahwa signifikasi posisi guru dalam dunia pendidikan (Syah
2002 : 233). Popham dan Baker (1992 : 1) menegaskan bahwa di dalam masyarakat
dari yang paling terkebelakang sampai yang paling maju guru memegang peranan
penting. Oleh karena itu guru merupakan yang merupakan salah satu unsur bidang
pendidikan harus berperan secara aktif dan menempatkan dirinya sebagai tenaga
pendidikan yang profesional sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin maju
dan berkembang.
Sudirman (1986 : 123) Mulyasa (2003 : 186-187) (dalam Depdiknas,
2004 : 7) menekankan bahwa guru perlu memiliki hal-hal sebagai berikut :
(1)
menguasai dan memahami bahan dan
hubungan dengan bahan yang lain dengan baik (2) menyukai apa yang diajarkannya
dan menyukai mengajar sebagai profesi (3) memahami peserta didik pengalaman
kemampuan dan prestasinya (4) menggunakan metode yang bervariasi dala mengajar
(5) mampu mengenaliminasi bahan-bahan yang kurang penting dan kurang
berarti (6) selalu mengkuti perkembangan pengetahuan mutakhir (7) proses
pembelajaran selalu disiapkan (8) mendorong peserta didiknya untuk mendapatkan
hasil yang lebih baik (9) menghubungkan pengalaman yang lalu dengan bahan yang
diajarkan. Dengan demikian guru perlu memberikanmotVasi kepada siswa untuk menggunakan
otoritas atau haknya dalam membangun gagasan atau ide-ide di dalam belajarnya.
Walaupun tanggung jawab belajar berada pada diri siswa, namun guru harus
bertanggung jawab untuk mengarahkan belajar sepanjang hayat.
Terkait dengan pengajaran pendidikan agama Hindu, pendidik atau guru pendidikan
agama Hindu adalah merupakan salah satu komponen dalam proses pembelajaran.
Guru atau pendidik mempunyai peranan yang sangat penting di dalam proses
pendidikan, agar supaya pendidik dapat melaksanakan tugas pedagogis dengan
sebaik-baiknya. Untuk itu agar dikatakan bahwa guru berperan sebagai pendidik
yang profesional harus memenuhi beberapa syarat yaitu : (1) Syarat profesional
(Ijazah), (2) Syarat biologis (kesehatan jasmani), (3) Syarat Psikologis (kesehatan
mental) dan (4) Syarat Paedagogis (pendidikan). (Swarni, 1988 : 92).
Berdasarkan pendapat di atas, maka syarat profesional (ijazah) untuk seorang
guru pendidikan agama Hindu di Sekolah Dasar adalah minimal Diploma Dua
(S2) Agama Hindu. Syarat biologisnya seorang guru harus dalam keadaan
sehat jasmani agar dapat melaksanakan tugas dengan baik dengan semangat yang
penuh vitalite. Guru hendaknya tidak mengalami cacat rohani dan jasmani
karena bisa brakibat tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik dan
sempurna, serta syarat psikologis yang dimaksud adalah seorang guru harus dalam
keadaan sehat mental dan syarat pedagogis dedaktis yang dimaksudkan adalah agar
guru memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas. Disisi lain selain syarat
tersebut di atas, seorang guru juga diharapkan terampil dan cekatan dalam
melaksanakan tugas kependidikannya (skill). Disamping hal tersebut
diatas yang tidak kalah pentingnya adalah agar seorang guru agama Hindu harus
menjadi panutan baik dalam berfikir, berbicara dan bertingkah laku dalam
kehidupan sehari-hari baik di rumah, di sekolah maupun di masyarakat.
Jika dikaitkan dengan konteks pendidikan formal jelas bahwa pendidikan agama
tidak cukup hanya mengajarkan kepada siswa tentang aspek-aspek pengetahuan
agama saja yang dikonfirmasikan dalam kurikulum, tetapi juga upaya transformasi
pengetahuan sepanjang peluang yang ada dalam setting sekolah. Tujuannya adalah
agar pada akhirnya nanti setelah para siswa menyelesaikan pendidikannya dapat
menerapkan pengetahuan yang diperolehnya melalui pendidikan formal berupa
penerapan dalam kehidupan yang nyata di masyarakat. Hal ini sesuai dengan apa
yang dijelaskan di dalam petunjuk teknis Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu
(1995 : 12) sebagai berikut sesuai dengan tujuan pendidikan agama Hindu yaitu
utuk meningkatkan keimanan kepada Tuhan, mengembangkan moral yang baik, maka
selayaknya guru lebih memperhatikan perubahan sikap dan prilaku siswa, bukan
semata-mata penguasaan pengetahuan materi agama.
Perlu dipahami bahwa guru dalam pembelajaran dapat menjadi sumber bantuan
sekaligus sumber kesulitan bagi siswa dalam belajarnya. Apakah guru bisa
menjadi sumber bantuan atau sumber kesulitan didalam belajar siswa tentu sangat
ditentuan oleh kualitas guru itu sendiri. Guru yang memiliki kualitas yang baik
tentu akan menjadi pendorong dan dapat memotVasi siswa belajar dengan baik.
Sebaliknya guru yang kualitasnya kurang tentu akan menyulitkan para siswanya
sendiri dalam belajar. Dengan demikian ini berarti bahwa guru dapat menjadi
salah satu faktor peyebab kesulitan belajar atau berinteraksi. Menurut Dalyono
(2001 : 242-243) guru menjadi faktor penyebab kesulitan siswa apabila :
(1)
Guru tidak menguasai materi
pelajaran dengan baik. Hal ini bisa terjadi kalau guru bersangkutan memegang
mata pelajaran yang sesuai dengan vaknya, sehingga didalam mengajar ia akan
nampak kurang persiapan, (2) guru tidak menguasai metode mengajar dengan baik,
sehingga penjelasan yang diberikan kepada para siswa justru membingungkan
siswa. Akibatnya para siswa pasif, tidak tertarik, bosan, jenuh bahkan bisa
membenci mata pelajaran yang dipegangnya, (3) guru tidak memiliki kecakapan
dalam usaha mendiagnosis kesulitan belajar. Misalnya dalam menentukan bakat,
minat, sifat, kebutuhan anak, dan sebagainya, (4) guru terlalau menuntut
standar penguasaan kepada para siswa yang terlalu tinggi, yang berada diatas
rata-rata kemampuan siswa sehingga siswa sulit memenuhi standard tersebut, (5)
hubungan guru dengan siswa kurang baik, karena sinis, judes, tidak pernah
tersenyum, sering mengejek, sering memarahi siswa dan sebagainya.
Dengan penjelasan di atas maka terkandung pula maksud serta pengertian bahwa
guru di sekolah bukan saja bertugas mengajar, tetapi juga harus mampu berperan
sebagai pendidik. Sehubungan dengan pendapat di atas, maka dalam meningkatkan
respon dan hasil belajar perlu mencermati pendapat di atas. Untuk mendapatkan
respond an hasil belajar siswa yang maksimal maka digunakan metode Recourse-Based
Leraning dalam proses pembelajaran di Kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa
Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.
H. HIPOTESIS TINDAKAN
Jika dalam proses pembelajaran pendidikan agama Hindu diterapkan metode
Resource-Based Learning dalam pelajaran agama hindu untuk meningkatkan
respon dan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa
Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2014/2015
I.
LANDASAN
TEORI
Sehubungan dengan pembahasan tentang
teori ini, maka penulis akan mencoba mengemukakan beberapa pokok pemikiran dari
beberapa teori yang akan dijadikan landasan berfikir. Hal ini mengacu kepada
konsep bahwa teori dapat bertindak sebagai alat dalam ilmu pengetahuan. Teori
mencoba menjawab pertanyaan mengapa (why) dan bagaimana (how). Teori
dapat memberikan landasan penjelasan dan prediksi. Teori dalam pengertian
ilmiah bertujuan hanya satu yaitu menjelaskan hubungan dari aktvitas yang
diamati.
Teori dapat juga dimanfaatkan untuk mensistematiskan dan mengorganisasikan
pengalaman sehari-hari, serta dari kesisteman dan pengorganisasian pengalaman
sehari-hari kemudian diharapkan dapat mengembangkan suatu hipotesa khusus yang
diberikan kepada tes empirik melalui proses penelitian.
Snelbecker (dalam Dahar,1989:1) berpendapat bahwa teori bukan hanya penting,
tetapi vital bagi psikologi dan pendidikan, untuk maju dan berkembang serta
memecahkan masalah-masalah yang ditemukan dalam setiap bidang itu.
Terkait dalam hal tersebut berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, dan konsep yang telah ada, penulis mengupayakan untuk
mengungkap beberapa pokok pikiran dari beberapa teori yang dijadikan sebagai
landasan untuk berfikir. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori
belajar Behaviorisme,
Teori Sikap dan teori belajar Konstruktivisme. Ketiga teori diatas
dipergunakan untuk mengkaji dan membedah permasalahan penelitian yang sedang
dilaksanakan, sehingga nantinya diharapkan memperoleh hasil penelitian yang
valid.
1.
Teori Behaviorisme
Teori behaviorisme yang disebut juga
teori koneksionistis berpendapat bahwa dalam belajar Pendidikan Agama Hindu
bertumpu pada koneksi antara stimulus dan respon yang
kemudian disusul dengan penguatan (reinforcemen). Teori ini dikembangkan
dari hasil percobaan yang dilakukan oleh Pavlov dengan seekor anjing dan juga
Skinner dengan burung merpatinya. Dari percobaan itulah ditarik teori belajar
termasuk belajar agama, bahwa untuk menguasai ketrampilan itu, pebelajar harus
mengikuti proses kaitan antara rangsangan (stmulus) dan tanggapan (respon).
Proses belajar ini berlangsung secara berkelanjutan tau dilakukan
berulang-ulang dan sutu saat diperlukan penguatan dan ganjaran. Teori ini
menekankan betapa pentingnya masukan (input) karena input itu akan
menjadi stimulus untuk merangsang terjadinya respon. Respon
yang mungkin terjadi dapat bersifat negatif dan positif. Respon yang
positif (reinforcement) yang cenderung diulangi sehingga terbentuknya
suatu kebiasaan, sedangkan respon negatif cenderung tidak diulangi.
Teori behaviorisme itu (1) bersifat
environmentalistik (environment atau lingkungan) artinya mementingkan pengaruh
lingkungan. (2) bersifat elementeristik dalam arti mementingkan elemen-elemen
atau unsur-unsur atau bagian-bagian. Belajar sesuatu melalui cara yang setapak
demi setapak, sedikit demi sedikit adalah sebagian yang menunjukkan ciri
pandangan ini. (3) mementingkan pembentukan kebiasaan (habit). Belajar
apa saja haruslah melalui pembiasaan, melalui latihan-latihan intensif supaya
orang menjadi terbiasa. Tentu saja kebiasaanitu haruslah melewati proses atau
mekanisme stimulus–respon.(4) Pandangan ini memang mengutamakan
mekanisme terbentuknya hasil belajar, melaui proses pembiasaan, dan stimulus
– respon
Bertitik tolak dari pandangan behaviorisme
ini, maka dalam belajar pendidikan agama Hindu anak perlu diberi
nasihat-nasihat secara berkesinambungan baik disekolah maupun secara informal
di dalam keluarga, agar konsep, nilai yang diterima dapat meresap dalam jiwa
anak sehingga akan membentuk sikap mental dan kepribadian anak
didik.
2. Teori Sikap
Sears, (dalam Azwar, 1995 : 80). Sikap adalah keadaan mental dan syaraf dari
kesiapan yang diatur pengalaman yang memberikan pengaruh dan dinamik atau
terarah terhadap respon indVidu sebagai objek dan situasi yang berkaian
dengannya. Sikap digambarkan sebagai kesiapan yang selalu menanggapi dengan
cara tertentu dan menekankan impikasi prilaku.
Thurstone dan Osgodd (dalam Azwar, 1995 : 90) memberikan pengertian tentang
sikap yaitu suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang
terhadap objek adalah perasaan mendukung atau memihak ataupun perasaan tidak
mendukung objek tersebut. Formulasi oleh Thurston sendiri mengatakan bahwa
sikap adalah derajat efek positif atau negatif yang dikaitkan oleh suatu objek
psikologis, sikap sebagai suatu prilaku, kesiapan antisipatif untuk
menyesuaikan diri dalam situasi sosial. Sikap terbentuk dari adanya interaksi
sosial indvidu dengan orang lain. Interaksi sosial mengandung arti lebih dari
sekedar kontak sosial. Dalam interaksi sosial, terjadi bimbingan saling
pengaruh mempengaruhi antar indVidu satu dengan indvidu yang lain.
Dalam kaitannya dengan pelitian yang dilaksanakan ini, teori sikap digunakan
sebagai landasan berfikir untuk dalam mengunakan metode Resourse-based
Lerarning terutama bagi guru-guru untuk dijadikan panutan yang ditampilkan
oleh guru pendidikan agama Hindu khususnya dan guru-guru yang lainnya sebagai
alat untuk meningkatkan respon dan hasil belajar pendidikan agama Hindu Siswa
Kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.
2 Teori Konstruktivisme
Teori konstruktivisme digunakan
dalam penelitian ini, berpijak dari pandangan yang mengatakan bahwa bahwa konstruktivisme adalah
salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah
konstruksi ( bentukkan ) kita sendiri. Piaget (dalam Dahar,1989:161) menegaskan
bahwa anak-anak memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah, dan pendidikan
seharusnya memperhatikan hal itu dan menunjang proses alamiah ini. Sedangkan
Piaget (dalam Suparno,1996:18) pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari
pengamat tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalaman
atau Dunia sejauh dialaminya. Proses pembentukan ini berjalan
terus menerus dengan setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu
pemahaman yang baru.
Bertolak dari pandangan konstruktivisme
di atas, maka dalam setiap proses pembelajaran Pendidikan Agama Hindu yang
dilaksanakan para siswa harus mampu membentuk pengetahuannya sendiri melalui
proses pembentukan skema, kategori, konsep dan struktur pengetahuan yang
diperlukan. Para siswa perlu dirangsang untuk mampu mengkonstruksi sendiri
pengetahuan yang diperolehnya melalui interaksi dengan lingkungannya, sehingga
para siswa mampu memahami konsep,menciptakan struktur mental dan
menerapkannya dalam pengalaman belajar Pendidikan agama Hindu, sehingga para
siswa menjadi aktif dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Kemudian hasil interaksi
dengan lingkungannya tersebut ditransformasi ke dalam fikirannya dengan
bantuan struktur yang telah ada sebelumnya.
Togin (1990:76) menyatakan bahwa :
Teori kontruktvisme
berpendapat bahwa proses pembelajaran adalah memberikan tekanan kepada
pengkontruksian makna pengetahuan yang telah ada sebelumnya dan input-input
sensor yang baru serta menekankan pada hubungan-hubungan oleh siswa didalam
mengkonstruksi makna. Proses konstruksi makna bisa terjadi antara ide-ide yang
telah mereka miliki dan input-input yang dipilih. Dapat juga terjadi antara
pengalaman mereka sebelumnya dalam dunia mereka sehari-hari dan ide-ide baru
yang mereka ditemukan di sekolah. Belajar menurut pandangan konstruktivisme merupakan
modifikasi dari ide-ide yang ada pada diri siswa, karena itu belajar adalah
suatu pembentukan pengertian dan pengalaman-pengalaman dalam hubungannya dengan
pengetahuan sebelumnya
Jadi sehubungan dengan penelitian yang dilaksanakan ini, teori belajar
konstruktivisme
mengharapkan siswa mampu mengkonstruksi pengetahuan yang diperolehnya dari
guru, dengan tidak terlepas dari proses pengamatan manusia itu sendiri,
Pengkonstruksikan pengetahuan oleh manusia dipengaruhi atas pengalaman manusia
sejauh mana ia mengalaminya. Dalam mengkonstruksi pengetahuan pendidikan Agama
Hindu, pebelajar perlu mendapatkan pengalaman dalam menemukan suatu konsep atau
prinsip, termasuk melalui penerapan metode pemecahan masalah..
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian
tindakan kelas (classroom action research) yang
pelaksanaannya berupa sajian atau latihan di lapangan. Arikunto (2006:91)
menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap
kegiatan yang sengaja dimunculkan, dan terjadi dalam sebuah kelas. Penelitian
tindakan kelas ini secara umum bertujuan meningkatkan dan memperbaiki kualitas
pada proses di kelas yang bermuara pada peningkatan kompetensi dari siswa.
2. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah
semua siswwa kelas V di SD Negeri 1 Tanjung Benoa Tahun 2014/2015. Banyak siswa yang menjadi subjek
penelitian adalah 20 orang yang terdiri 8 orang siswa laki-laki dan 12 siswa
perempuan. Dengan rincian sebagai berikut;
3.
Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini meliputi aktivitas, prestasi
belajar dan respon siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu. Prestasi
belajar siswa yang dimaksud adalah skor rata-rata yang diperoleh dari tes
perestasi belajar yang diberikan pada setiap akhir siklus pembelajaran
4. Rancangan Penelitian
Berkenaan dengan mata pelajaran yang
disasaran, maka penelitian ini bertujuan memperbaiki aktivitas proses belajar
siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu melalui penerapan metode
resource-based learning. Penelitian ini mempergunakan rancangan penelitian
tindakan kelas yang dilaksanakan
dalam dua siklus yang masing-masing menggunakan rancangan penelitian tindakan
kelas Model Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto, 2006:93) terdiri dari empat
tahap yaitu: 1) tahap perencanaan, 2) tahap pelaksanaan tindakan, 3) tahap
observasi, 4) tahap refleksi. Untuk lebih jelasnya tentang prosedur tindakan
kelas yang akan dilaksanakan, dapat dilihat
pada bagan berikut:
Refleksi Awal
|
Perencanaan
Tindakan
|
Refleksi
I
|
Pelaksanaan
Tindakan
|
Perencanaan
Tindakan
|
Refleksi
II
|
Pelaksanaan
Tindakan
|
Laporan
|
Observasi/Evaluasi
I
|
Observasi/Evaluasi
II
|
Gambar 3.1 Desain Penelitian
Tindakan TQM
5. Tempat Penelitian
Penelitian ini
mengambil tempat SD Negeri 1 Tanjung Benoa yang berlokasi di Desa Tanjung
Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.
6. Prosedur Pelaksanaan Tindakan
Penelitian ini
dilaksanakan selama tiga bulan dari bulan Oktober 2014 sampai bulan Desember
2014 dengan persiapan – persiapan yang lebih baik untuk mencapai hasil yang
memuaskan, maka peneliti menggunakan dua siklus yaitu: siklus pertama
dilaksanakan dalam tiga pertemuan. Pada siklus kedua dilaksanakan dalam tiga
kali pertemuan. Masing-masing siklus dikembangkan menjadi empat tahapan yaitu
sebagai berikut:
a. Siklus I
1. Perencanaan Tindakan
a. Pertemuan Pertama
Pada tahap ini, adapun kegiatan yang di lakukan oleh peneliti dengan guru
secara kolaboratif adalah kegiatan sebagai berikut:
(1) Mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP)
(2) Menyiapakan materi pelajaran yang akan
disajikan.
(3) Menyiapakan lembar kerja yang berisikan permasalahan
yang berhubungan dengan materi
(4) Membuat kisi-kisi soal
(5) Mempersiapkan lembar observasi
(6)
Menyusun tes hasil belajar
a.
Perancanaan Pertemuan Kedua
Kegiatan
yang dilakukan oleh peneliti dan rekan guru adalah sebagai berikut:
(1)
Mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
(2)
Menyiapakan materi pelajaran yang akan disajikan.
(3) Menyiapakan lembar kerja yang
berisikan permasalahan yang berhubungan dengan materi pelajaran
(4)
Mempersiapkan lembar observasi
2.
Pelaksanaan Tindakan
Setelah
rencana di tetapkan, selanjunya dilakukan kegiatan pembelajaran dengan
menerapkan metode resource-based learning yang dilengkapi dengan
referensi sebagai pendukung dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
a.
Pelaksanaan Pertemuan Pertama
b.
Pelaksanaan Pertemuan Kedua
c.
Pelaksanaan Pertemuan Ketiga
1. Observasi dan Evaluasi
Pelaksanaan
observasi dilakukan selama guru melaksanakan pembelajaran pendidikan agama
hindu. Semua aktivitas belajar siswa dicatat dalam lenbar observasi. Beberapa
hal yang menjadi pengamatan yaitu kerjasama siswa dalam kelompoknya untuk
memecahkan suatu permasalahan, keberanian siswa dalam mengeluarkan pendapat dan
bertanya, pembagian tugas dalam kelompok, serta merumuskan suatu simpulan.
Evaluasi dapat dilaksanakan pada akhir siklus. Evaluasi
dengan memberikan tes hasil belajar dalam bentuk pilihan ganda yang berjumlah
15 item.
2.
Refleksi
Refleksi
dilakukan terhadap tindakan hasil observasi dan evaluasi dengan menilai dan
mengidentifikasi hasil yang dicapai pada siklus II. Sebagai dasar refleksi ini
adalah hasil observasi tentang motivasi dan dan hasil tes belajar siswa. Hasil
kegiatan ini dijadikan dasar peluang penerapan metode resource-based
learning dalam pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama hindu
b.
Siklus II
Pada siklus II, tindakan dibagi dalam tiga kali
pertemuan. Tindakan yang diberikan di siklus II sama dengan tindakan yang
diberikan pada siklus I, akan tetapi dengan kelompok yang berbeda.
Kelompok-kelompok ini dibentuk berdasarkan nilai tes hasil belajar siswa di
siklus I. Adapun perincian kegiatan yang dilaksanakan dalam siklus II yaitu:
1. Perencanaan Tindakan
a. Perencanaan Pertemuan Pertama
Pada tahapan ini kegiatan yang akan dilakukan oleh peneliti
bersama dengan rekan guru secara kolaboratif adalah sebagai berikut:
(1) Mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP)
(2) Menyiapakan materi pelajaran yang akan disajikan.
(3) Membuat kisi-kisi soal
(4) Mempersiapkan lembar observasi
(5) Menyusun tes hasil belajar
b. Perencanaan Pertemuan Kedua
Kegiatan yang dilakukan oleh peneliti dengan rekan guru
adalah sebagai berikut:
(1) Mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP)
(2) Menyiapakan materi pelajaran yang akan disajikan.
(3) Mempersiapkan lembar observasi
2. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan pada pelaksanaan tindakan adalah
melaksanakan kegitan pembelajaran sesuai dengan perencanaan yakni:
a. Pelaksanaan Pertemuan Pertama
b.Pelaksanaan Pertemuan Kedua
c. Pelaksanaan Pertemuan Ketiga
3. Observasi dan Evaluasi
Pelaksanaan observasi dilakukan selama guru melaksanakan
pembelajaran di masing-masing siklus.
Evaluasi dapat dilaksanakan pada akhir siklus. Evaluasi
dengan memberikan tes hasil belajar dalam bentuk pilihan ganda yang berjumlah
15 item pada setiap akhir pelajaran akademik.
4. Refleksi
Refleksi dilakukan terhadap tindakan hasil observasi dan
evaluasi dengan menilai dan mengidentifikasi hasil yang dicapai pada siklus II.
Sebagai dasar refleksi ini adalah hasil observasi tentang motivasi dan dan
hasil tes belajar siswa. Hasil kegiatan ini dijadikan dasar peluang penerapan
metode resource-based learning dalam pembelajaran mata pelajaran pendidikan
agama hindu.
3. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang di pergunakan dalam penelitian ini
adalah:
a. Metode Observa Observasi
adalah suatu usaha pengumpulan data dengan pengamatan baik secara langsung
maupun tidak langsung. Dalam penelitian ini menggunakan metode observasi
berperan serta untuk mengumpulkan data mengenai motivasi siswa dalam proses
pembelajaran. Hal-hal yang perlu diamati dalam penelitian ini seperti siswa
bertanya pada guru, mengajukan pendapat, diskusi dalam pemecahan masalah,
mengerjakan tugas yang diberikan guru, membuat suatu simpulan dan bekerja sama
antara siswa dalam kelompok.
b. Metode Tes
Metode tes dalam kaitannya dengan penelitian ini adalah cara
memperoleh data yang berbentuk suatu tugas yang harus dikerjakan oleh seorang
atau kelompok orang yang dites, dan dari tes ini menghasilkan skor, dan
selanjutnya sekor tersebut dibandingkan dengan suatu kreteria atau standar
tertentu. Tes yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa tes hasil
belajar yang jumlah soalnya 15 item berupa pilihan ganda.
c. Metode Wawancara
Metode wawancara adalah untuk mendapatkan informasi yang
diperlukan dalam penelitian ini, wawancara dilaksanakan oleh peneliti terhadap
guru. Data yang diambil dalam wawancara ini adalah mekanisme pembelajaran, dan
proses belajar mengajar dengan penerapan metode resource-based learning
4. Teknik Analisis Data
Dalam pengumpulan hasil analisis merupakan pengambilan inti
dari sajian data yang telah terorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau
kalimat singkat, padat, dan bermakna.
Skor yang diperoleh dianalisis dengan bantuan statistik
deskriptif dasar dengan ketentuan rumusan sebagai berikut : menentukan M
(rata-rata kelas), daya serap (DS), Ketuntasan belajar (KB) dapat dicari dengan
rumusan sebagai berikut:
( M ) =
Keterangan
M = Mean atau rata – rata kelas
jumlah nilai seluruh siswa
N = Jumlah siswa
Untuk mencari daya serap dapat digunakan rumus
sebagai berikut :
( DS) = x 100%
DS = Daya Serap
M = Mean atau rata – rata kelas
Untuk mencari ketunasan belajar (KB) = jumlah siswa
tuntas belajar x 100 %
jumlah siswa keseluruhan
Rentangan untuk mengukur hasil belajar siswa adalah
dengan menggunakan skala lima pada tabel berikut:
Tabel Konversi skor Hasil Belajar
No
Rentang Nilai
Kategori Nilai
Keterangan
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
1
2
3
4
5
|
86-100
70-85
56-69
41-55
0-40
|
A
B
C
D
E
|
Baik Sekali
Baik
Cukup
Kurang
Kurang sekali
|
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsini. 1998, Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktek . Jakarta : Rineka Cipta.
Aryani, Ni Wayan. 2000. Penerapan Metode Media Untuk
Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Matematika Pada Siswa Kelas I Catur
Wulan 3 SD Nomor 1 Paket Agung Kecamatan Buleleng Tahun Ajaran 1999/2000.
Skripsi Tidak diterbitkan. Jurusan Ilmu Pendidikan STKIP Singaraja.
Dahar. R.W.
1989. Teori – Teori belajar, Jakarta : Erlangga.
Djamarah,
Shaiful Bahri dan Zain Aswan, 1995. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta :
Rineka Cipta
Hadi, Sutrisno. 1991. Statistik. Yogyakarta :
Yogyakarta :Fakultas Psikologi UGM
Hamalik, Oemar. 1986. Media Pendidikan. Bandung :
Alumni Bandung
Ida Bagus
Eka Permana. 2008. Penerapan Metode Pembelajaran CTL dalam Meningkatkan Hasil
Belajar Pendidikan Agama Hindu Siswa Kelas XI IPA 3 SMA Dwijendra Denpasar
Tahun Pelajaran 2007/2008. Skripsi (tidak
diterbitkan)
Kanianta, I Ketut. 2000. Penerapan Bebrapa Metode
Mengajar dan Media Pengajaran Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belaajr
Siswa Pada Bidang Studi Plaming Dalam Pelajaran Menyamung Pipa Galvanis di
Kelas I Semester I Jurusan Bangunan Gedung SMK Negeri 3 Singaraja Tahun
Pelajaran 2000/20001.Skripsi tidak diterbitkan. Jurusan Ilmu Pendidikan STKIP
Singaraja.
Kerlinger. F.N. 2002. Asas-Asas Penelitian Behavioral. Terjemahan Landung R
Simatupang. Foundation of Behavioral Research. 1964. Cetakan ke-8.
New York : Holt
Rinehart and Winston.
Mudjiono, Dimyati. 2002. Belajar dan Pembelajaran.
Jakrta : Rineka Cipta.
Nasution. 1982. Berbagai Pendekatan Dalam Proses
Belajar dan Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
Sudjana, Nana. 2000. Dasar-dasar Proses Belajar
Mengajar. Bandung : PT. Sinar Baru.
Sudjana, Nana. 2004. Penilaian Hasil Proses Belajar
Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sukardi. 2004. Metodelogi Penelitian Pendidikan.
Yogyakarta: Bumu Aksara.