Selasa, 12 Januari 2016

PENERAPAN METODE RESOURCE-BASED LEARNING DALAM PELAJARAN AGAMA HINDU UNTUK MENINGKATKAN RESPON DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V SD NEGERI I TANJUNG BENOA KECAMATAN KUTA SELATAN, KABUPATEN BADUNG TAHUN PELAJARAN 2014/2015

A. JUDUL
B. LATAR BELAKANG MASALAH
Proses belajar mengajar jika ditinjau dari segi pengertiannya adalah suatu proses untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dalam rangka mentransfer informasi, pewarisan kebudayaan kepada generasi muda, serta suatu usaha mengorganisasikan pengetahuannya atau lingkungannya sehingga menciptakan pengetahuan yang utuh serta pengalaman dalam diri siswa. Maka dari itu sangat penting diadakannya konsisi belajar yang kondusif , sebab kondisi yang kondusif akan dapat menyebabkan sisiwa belajar dengan baik untuk mencapai hasil belajar yang maksimal.
Situasi yang memungkinkan terjadi dalam belajar dan mengajar dengan mengunakan sumber yang ada adalah siswa dapat berinteraksi dengan komponen-komponen lain baik terhadap pengalamannya dan lingkunganya secara optimal, karena setiap siswa yang belaajr adalah selalu mengkaitkan pengetahuan barunya terhadap pengalaman pengetahuan yang sudah ada dalam pikirannya untuk mendapatkan suatu tanggapan pemikirannya. Selain dari itu juga siswa dapat memberikan tangapan terhadap apa yang sudah didapatkan dari hasil perbandingan pengalaman didalam pemikiran siswa tersebut,. Dapat berinteraksi saat proses pembelajaran berlangsung, dapat berkomunikasi dengan teman-temannya dalam belajar serta dapat menyimpulkan sendiri pengetahuan yang sudah didapatkannya tersebut.
Sebagaimana seperti yang telah dipaparkan diatas pendidikan dalam konteks belajar mengajar atau proses pembelajaran tidak bisa lepas dari sumber belajar sebagai dasar dalam menambah pengalaman bagi siswa dan sebagai bahan ajar untuk disampaiaan kepada siswa.. Namun kenyataan dalam dunia pendidikan saat ini cenderung semakin tidak memperhatikan hal tersebut, terkadang guru mengajar di dalam kelas hanya mengunakan pengalaman kesehariannya tanpa ada pembuktiaan secara ilmiah di suatu penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan. Selain dari itu guru juga selalu mengunakan sumber belajar yang mana sumber tersebut sudah tidak dipergunakanm secara umum disekolah-sekolah atau buku lama yang masih tetap digunakan sebagai acuan mengajar. Sehingga dengan prilaku guru yang demikian akan menyebabkan respon dan hasil belajar siswa tidak meningkat secara umum. Siswa belum bisa mengkait-kaitkan pengalaman dan pengetahuannya yang didapat sebelumnya dan pada saat proses pembelajaran berlangsung karena sumber yang digunakan tidak mengena bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan.
Begitu juga dalam halnya proses pembelajaran yang ada di SD Negeri I Tanjung Benoa masih belum seperti yang diharapkan seperti tujuan pendidikan, Karena selama ini seperti apa yang diperoleh mengenai kesan di lapangan bahwa tingkat prestasi belajar siswa kelas V masih belum dirasakan mencapai suatu ketuntasan dan hasil belajar khususnya Pembelajaran Agama Hindu yang belum memenuhi standar ketuntasan belajar serta hasilnya belum makasimal. Selain dari itu, masalah yang timbul dari hasil belajar yang belum mencapai tujuan dikarenakan kurang ketertarikan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar khususnya Pendidikan Agama Hindu sebab siswa merasa susah memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Sehingga siswa merasa bosan dan enggan mengikuti pembelajaran atau siswa didalam kelas tidak mengikuti alur pembelajaran sehingga semua yang dijelaskan oleh guru tidak ada dimengerti. Hal ini dilihat dari hasil belajar siswa dalam ujian semester masih rendah masih banyak yang dinyatakan belum tuntas.
Kurangnya respon adalah penyebab utama yang mempengaruhi hasil belajar yang di inginkan, banyak siswa pada saat jam pelajaran memilih bermain-main, bercanda, dan mengerjakan tugas lainnya, siswa lebih tertarik pada pelajaran lainnya, serta tidak memperhatikan guru didepan. Sehingga hasil yang didapat dari ujian semester pendidikan Agama Hindu selalu belum mencapai ketuntasan belajar sehingga kegiatan remedial sering dilakukan oleh guru pendidikan agama Hindu.
Berdasarkan fenomena-fenomena yang ada diatas, maka sangat perlu pemecahaan masalah yang serius dalam penangananya, maka dari itu penelitian ini dimaksudkan untuk dapat memberikan pemecahan masalah yang ada di SD Negeri I Tanjung Benoa untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Hindu. Oleh karena itu pemecahaan masalah yang terjadi tersebut, menitik beratkan pada proses pembelajaran yaitu belajar mengunakan berdasarkan sumber atau “REUSOURCE – BASED LEARNING”. Penerapan metode ini pada prinsipnya adalah suatu metode dimana segala bentuk pelajaran yang berlangsung menghadapkan siswa dengan suatu atau sejumlah sumber belajar secara indvidual ataupun kelompok dengan segala kegiatan belajar yang bertalian dengan itu. Penerapan ini sejak dulu selalu digunakan dimana para guru mengajar mengunakan pedoman buku-buku sebagai bahan acuan dalam kelas, proses pembelajaran seperti ini dimana seorang guru aktif mengajar dengan mengunakan berbagai fasilitas untuk menunjang pembelajaran seperti media visual, perpustakan, museum dan lain sebagainya. Dengan demikian cara belajar seperti ini akan meningkatkan motvasi siswa untuk belajar dan rasa keingintahuannya meningkat serta dapat mengaitkan pengalamanya menjadi suatu kesimpulan dalam pemikirannya.
Maka dari prinsip mulia diatas penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada peningkatan respon dan hasil belajar siswa yang maksimal, karenanya penelitian ini tindakan kelas (PTK) ini memfokuskan pada suatu metode yang disebut PENERAPAN METODE RESOURCE-BASED LEARNING  DALAM PELAJARAN AGAMA HINDU UNTUK MENINGKATKAN  RESPON  DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V SD NEGERI I TANJUNG BENOA KECAMATAN KUTA SELATAN, KABUPATEN BADUNG TAHUN PELAJARAN 2014/2015.
C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan dari latar belakang masalah yang diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana respon siswa kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa dengan penerapan metode Resource-Based Learning  dalam pelajaran agama Hindu untuk meningkatkan  hasil belajar siswa kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2014/2015?
2.      Bagaimana tanggapan kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2014/2015 tentang penerapan metode Resource-Based Learning  dalam pelajaran agama Hindu?
D. TUJUAN PENELITIAN
1.      Untuk mengetahui respon V SD Negeri I Menyali pada saat  penerapan metode Resource-Based Learning  dalam pelajaran agama Hindu untuk meningkatkan  hasil belajar siswa kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2014/2015.
2.      Untuk mengetahui tanggapan kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2014/2015 tentang penerapan metode Resource-Based Learning  dalam pelajaran agama Hindu.

E. MANFAAT PENELITIAN
1.      Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan kepada guru pendidikan agama Hindu tentang penerapan metode Resource-Based Learning  dalam pelajaran agama Hindu untuk meningkatkan  respon  dan hasil belajar dimana diharapkan dapat dipakai sebagai acuan bagi pengembangan strategi pembelajaran khususnya dalam pembelajaran Pendidikan agama Hindu.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi guru Agama Hindu, penelitian ini dapat dijadikan masukan, acuan, dan pedoman yang bersifat tambahan untuk diterapkan, dikembangkan dala pembelajaran agama Hindu sesuai kondisi di SD Negeri I Tanjung Benoa.
b.      Bagi siswa dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman dalam hal memahami pelajaran agama Hindu.
c.       Bagi sekolah sebagai bahan masukan dalam mengembangkan metode-metode pembelajaran khususnya dalam mata pelajaran Agama Hindu, bagi siswa kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa. d. Bagi jurusan pendidkan agama Hindu penelitian ini dapat dijadikan sebagai alternatif acuan untuk mengevaluasi tingkat pengembangan pembelajaran agama Hindu yang selama ini dibelajarkan pada mahasiswa ditingkat jurusan sehingga diharapkan akan bisa memunculkan motivasi bagi mahasiswa jurusan pendidikan agama Hindu khususnya untuk terus mengembangkan penelitian dibidang yang sama, walaupun dengan menerapkan metode dan strategi pengajaran yang berbeda.

F. KAJIAN PUSTAKA

        I Ketut Kanianta (2000) dalam Skripsinya yang berjudul “Penerapan Beberapa Metode Mengajar dan Media Pengajaran Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Pada Bidang Studi Plambing dalam pembelajaran menyambung Pipa Galvanis di Kelas 1 Semester I Jurusan Bangunan Gedung Sekolah Menengah Jurusan Negeri 3 Singaraja Tahun Pelajaran 2000/2001. Menyatakan bahwa penerapan beberapa metode mengajar dan media pengajaran dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa dengan persentase aktif sebesar 82,97%. Dan persentase hasil belajar siswa sebesar 82%.
Kaitannya dengan penelitian yang dilaksanakan penelitian diatas dapat digunakan dalam hal memahami pengunaan beberapa metode dalam mengajar dan media dalam pengajaran untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dimana dalam penelitian ini mengunakan metode Resource-Based Learning pada kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa tahun pelajaran 2014/2015.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ni Luh Yuliani (2005) tentang Penerapan Metode Pemecahan Masalah dan Media Permainan Dalam Meningkatkan Keaktifan dan hasil Belajar Matematika Kelas V Semester II Tahun Pelajaran 2004/2005 SD Negeri 4 Pamecutan Kecamatan Denpasar Barat, menunjukkkan bahwa dengan penerapan metode pemecahan masalah ternyata dapat meningkatkan keaktifan pada saat proses pembelajaran di kelas. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian terhadap keaktifan belajar pada siklus pertama sebesar 77,20% yang berada pada kategori cukup aktif dan mengalami peningkatan pada siklus kedua menjadi 89,20% dengan kategori aktif. Selain meningkatkan keaktifan siswa metode ini juga meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian terhadap hasil belajar siswa pada siklus pertama sebesar 68,25% yang berada pada kategori sedang dan mengalami peningkatan pada siklus kedua menjadi 79,83% dengan kategori tinggi.
Berdasarkan apa yang telah diuraikan diatas, maka penelitian ini akan mencoba membahas permasalahan yang terjadi di kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2014/2015, penerapan metode Resource-Based Learning  dalam pelajaran agama Hindu yang diterapkan dalam penelitian ini berupaya meningkatkan respon dan hasil belajar pendidikan agama Hindu kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2014/2015
G. LANDASAN KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

Konsep merupakan salah satu syarat yang harus ada dalam kegiatan penelitian, atau penulisan karya ilmiah. Hal ini, disebabkan konsep mampu menggambarkan sejumlah Variabel terhadap topik yang diteliti. Konsep juga dipakai menjabarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya dan dibandingkan dengan penelitian yang akan dilaksanakan, guna menjawab permasalahan yang akan diteliti (Juliari, 2007:10). Konsepsi artinya pengertian, pendapat, paham, rancangan, atau cita-cita yang telah ada dalam pikiran (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke III, 2001:588).
1.      Metode Resource-Based Learning
            Dengan “Resourse-Based Learning” dimaksudkan segala bentuk belajar yang langsung menghadapkan murid dengan suatu atau sejumlah sumber belajar secara indvidual atau kelompok  dengan segala kegatan belajar. Guru bukan merupakan sumber belajar satu-satunya, tetapi murid dapat belajar dalam kelas, dalam laboraturium, perpustakaan, dalam ruang Sumber belajar yang ada di luar sekolah (Nasution, 1982:18).
Dalam metode itu sangat memeberikan perubahan besar yang ditimbulkan yakni antara lain pentingnya peranan ahli perpustakaan dan mereka yang memproduksi bahan media atau sumber belajar seperti buku-buku dan lain sebagainya.
a.       Latar Belakang Resourse-Basel Learning
Belajar berdasarkan sumber atau “resourse-based learning” bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan bertailan dengan sejumlah perubahan-perubahan yang mempengaruhi pembinaan kurikulum, perubahan-perubahan itu mengenai:
      1)   Perubahan dalam sifat dan pola ilmu pengetahuan manusia.
      2)   Perubahan dalam masyarakat dan tafsiran kita tentang tuntutannya.
      3)   Perubahan tentang pengertian tentang anak dan cara belajar.
      4)   Perubahan dalam media komunikasi.
b.      Ciri-ciri belajar berdasarkan sumber
1)   Belajar Berdasarkan Sumber (BBS) memanfaatkan sepenuhnya segala sumber informasi sebagai sumber bagi pelajar termasuk alat-alat audio-visual dan member kesempatan untuk merencanakan kegiatan belajar dengan memepertimbangkan sumber-sumber yang tersedia. Ini berarti bahwa pengajar tidak seperti kuliah dengan ceramah semata melainkan segala metode yang cocok digunakan.
2)   BBS (Belajar Berdasarkan Sumber) berusaha memberi pengertian kepada murud tentang luas dan aneka ragamnya sumber-sumber informasi yang dapat dimanfaatkan untuk belajar. Sumber-sumber utu berupa sunber dari masyarakat dan lingkungan berupa manusia, museum, organisasi, dan lain-lain, bahan cetakan, perpustakaan, alat audio-visual dan sebagainya. Mereka harus diberikan pengetahuan tentang bagaimana cara mengunakan perpustakan, buku refrensi sehingga mereka lebih percaya akan diri sendiri dalam belajar.
3)   BBS (Belajar Berdasarkan Sumber) berhasrat untuk menganti fasifvitas murid dalam belajar tradisional dengan belajar aktif didorong oleh minat dan keterlibatan diri dalam pendidikanya.
4)   BBS berusaha untuk meningkatkan motvasi belajar dengan menyajikan berbagai kemungkinan tentang bahan pelajaran, metode kerja, dan medium komunikasi, yang berbeda sekali dengan kelas yang konversional yang mengharuskan murid-murid belajar yang sama dengan cara yang sama.
5)   BBS memberi kesempatan kepada murid untuk bekerja menurut kesempatan dan kesangupan masing-masing dan tidak dipaksa.
6)   BBS lebih fleksibel dalam pengunaan waktu dan ruang belajar.
7)   BBS berusaha mengembangkan kepercayaan akan diri sendiri dalam hal belajar yang memungkinkannya untuk melanjutkan belajar sepanjang hidupnya.
Belajar berdasarkan sumber tidak meniadakan peranan guru, atau guru hanya diam dan bermalas-malasan, membiarkan murid begitu saja, tetapi guru terlibat dalam setiap langkah proses belajar, dari perencanaan, penentuan dan mengumpulkan sumber-sumber informasi, memberi motvasi, member bantuan apabila diperlukan. Gurulah yang mengusahakan adanya keseimbangan anatar waktu untuk belajar sendiri, belajar dalam kelompok dan berdiskusi, member informasi dan member penjelasan secara langsung dengan metode ceramah.
Dalam pelaksanan guru harus kerja sama dengan ahli perpustakaan yang lebih mengenal sumber-sumber bacaan yang ada.. selain itu juga kerja sama dengan guru lain yang mempunyai keahlian dan pengalaman masing-masing didalam dan diluar sekolah yang dapat disumbangkan kepada murid dalam rangka belajar berdasarkan sumber.
c.       Pelaksanaan belajar “Resourse-Based Learning
Resourse-Based Learning” adalah cara belajar yang bermacam-macam bentuk dan segi-seginya. Metode ini dapat singkat atau panjang, berlangsung selama satu jam atau selama satu semester  dengan pertemuan dua kali seminggu itu bisa disepakati karena belajar model ini tidak terikat oleh waktu. Dalam pelaksananya dapat mengunakan audio-visual yang dapat diamati oleh indvidu atau kelas. Jika dalam belajar berdasarkan sumber diutamakan tujuan untuk mendidik murid menjadi seorang yang sanggup belajar dan meneliti sendiri, maka ia harus dilatih untuk menghadapi masalah-masalah yang terbuka bagi jawaban-jawaban yang harus diselidiki kebenaranya berdasarkan data dari berbagai sumber.
Dalam pelaksanaan cara belajar ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1)    Pengetahuan yang ada, ini mengetani pengetahun guru tentang latar belakang murid dan pengetahuan murid tentang bahan pelajaran.
2)   Tujuan pelajaran, guru harus merumuskan dengan jelas tujuan apa yang ingin dicapai dengan pelajaran itu. Dimana tujuan itu turut menentukan metode yang akan digunakan.
3)   Memilih metodologi. Metodologi pelajaran banyak ditentukan oleh tujuan. Biasannya metode itu mengandung unsur:
      (a)    Uraian tentang apa yang akan dipelajari
      (b)   Diskusi dan pertukaran pikiran
      (c)    Kegiatan-kegiatan yang mengunakan berbagai alat intruksional, laboraturium dan sebagainya.
      (d)   Kegiatan diluar sekolah seperti kunjungan, kerja lapangan, esplorasi dan penelitian.
      (e)    Kegiatan dengan mengunakan sumber seperti buku perpustakan, alat audio visual dan lain-alain.
      (f)    Kegiatan kreatif seperti drama, seni rupa, musik dan pekerjaan tangan.
4)      Koleksi dan penyediaan bahan, dalam hal ini guru dapat menyediakan atau membantu murid untuk memenuhi bahan belajarnya pada perpustakaan disekolah, memperbanyak bahan, dengan memeprsiapkan alat-alat kegiatan kreatif lainnya.
5)      Penyediaan tempat, dalam belajar penyediaan tempat disekolah dipergunakan seperti laboraturium, perpustakan, ruang kesenian, olah raga dan lainya, untuk melakukan kegiatan murid. Dalam pelajaran ini, peran guru bermacam-macam ada kalanya ia perlu memberi penjelasan kepada semua murid, atau sebagai pemimpin seminar dan sebagai anggota seuatu kelompok.
Pelajaran ini tidak mengutamakan bahan pelajaran yang harus dikuasai, tidak mengharuskan murid-murid menguasai bahan yang sama, akan tetapi mementingkan kemampuan meneliti, mengembangkan minat, konsep-konsep penguasaan berbagai keterampilan termasuk keterampilan berpikir kritis dan lain sebagainya.
2.      Hasil Belajar
            Hasil belajar adalah kemapuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk prilaku yang relatif menetap (Abdurahman, 1999 : 37).
            Menurut Bloom (dalam Abdurahman 1999 : 38) ada tiga ranah hasil belajar yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik, sedangkan Abdurahman (1999) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan keluaran dari suatu sistem pemrosesan masukan. Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya adalah kinerja atau perbuatan.
            Secara garis besar Arikunto (1993 : 211) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu yang bersumber dari dalam diri manusia yang disebut faktor internal, dan faktor yang bersumber dari luar diri manusia yang belajar yang disebut dengan faktor eksternal.
      a.       Faktor yang berasal dari dalam diri manusia dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu faktor biologis dan psikologis. Yang termasuk faktor biologis adalah usia, kematangan dan kesehatan. Sedangkan yang termasuk sebagai faktor psikologis adalah kelelahan, suasana hati, motVasi, minat dan kebiasaan belajar.
      b.      Faktor yang bersumber dari luar diri manusia yang belajar dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu faktor manusia (human) dan faktor non manusia seperti alam, benda, hewan, dan lingkungan fisik.
            Untuk lebih jelasnya faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat di lihat dalam gambar berikut.

DIAGRAM. 1
Hasil Belajar

Faktor Internal

Biologis           : Usia
                          Kematangan
                          Kesehatan
Psikologis        : Minat
                          Motvasi
                          Suasana hati

Faktor Eksternal

Manusia           : di keluarga
                          Di sekolah
                          Di masyarakat
Non Manusia   : Udara
                          Suara
                          Bau-bauan

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL BELAJAR
                                                                       (Diagram II.1 Sumber : Arikunto, 1993)
            Suryabrata (1982 : 27) juga mengemukakan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu ada dua faktor, faktor luar dan faktor dalam.
            Faktor luar dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor lingkungan dan faktor instrumental.
      a.       Faktor lingkungan terdiri dari lingkungan alam dan lingkungan sosial. Lingkungan alam seperti keadaan suhu, kelembaban udara dan suasana tempat belajar. Lingkungan sosial seperti tempat tinggal, teman bergaul, dan tatanan pembangunan yang dapat menganggu konsentrasi belajar yang berpengaruh terhadap hasil belajar.
      b.      Faktor instrumental adalah faktor yang  penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor ini berfungsi sebagai sarana untuk mencapai tujuan belajar yang direncanakan. Faktor ini tersiri dari kurikulum, program, sarana dan fasilitas, serta guru.
            Faktor dari dalam dapat dibagi menjadi dua yaitu fisiologis dan psikologis.
      a.       Faktor fisiologis seperti kondisi fisiologis secara umum dan keadaan panca indra. Kodisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh pada hasil belajar seseorang. Orang yang keadaan segar jasmaninya akan berlainan hasil belajarnya dengan orang yang kelelahan, hal ini yang tidak kalah pentingnya adalah kondisi panca indra terutama pengelihatan dan pendengaran karena sebagian besar yang dipelajari manusia menggunakan pengelihatan dan pendengaran.
      b.      Faktor psikologis seperti minat, kecerdasan, bakat, motvasi dan kemampuan kognitif. Minat merupakan kecendrungan terhadap suatu obyek atau aktvitas yang menimbulkan perasaan senang yang dapat mempengaruhi hasil belajar. Motvasi merupakan daya dalam diri seseorang yang mendorong untuk berbuat atau merupakan suatu pendorong yang ada pada  manusia untuk melakukan kegiatan tertentu seperti berpartisipasi dalam proses belajar mengajar di kelas sehingga berpengaruh pada hasil belajar. Orang yang lebih cerdas pada umumnya akan mampu belajar daripada yang kurang cerdas. Bakat merupakan faktor yang mempengaruhi hasil belajar seseorang yang belajar sesuai dengan bakatnya akan cenderung mendapatkan hasil belajar yang lebih baik.
a.      Pendidikan Agama  Hindu
            Kurikulum Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Dasar (2004) dinyatakan bahwa pendidikan Agama Hindu adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam memahami, meyakini, menghayati dan mengamalkan ajaran Agama Hindu sebagai wujud pengamalan Pancasila, melalui bimbingan pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntunan saling hormat menghormati antar umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat, untuk mewujudkan persatuan Nasional.
b.      Fungsi Pendidikan Agama Hindu
            Pembaharuan yang dilakukan di dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan agama Hindu tidak saja merupakan hal yang bersifat teoritis, tetapi juga hal-hal yang menyangkut masalah teknis, terutama masalah teknis pengajaran yang dituntut semakin berkembang pula sesuai dengan kebutuhan anak didik, terlebih lagi bagi dunia pendidikan di era milenium seperti sekarang ini. Secara rasional dapat digambarkan bahwa kehidupan manusia di awal melinium ketiga dewasa ini telah mengalami banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan.
            Usaha merespon fenomena yang terjadi, dunia pendidikan khususnya terus memacu diri dalam usaha mengembangkan usaha pendidikan yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan lainnya. Namun dibalik pemebaharuan yang dilakukan oleh dunia pendidikan, justru dunia pendidikan mendapatkan hambatan, tantangan, dan godaan yang amat dahsyat, terutama dengan munculnya berbagai kasus dalam bentuk krisis moral para peserta didik dengan berbagai kejadian yang amat mencoreng Dunia pendidikan. Akibatnya khalayak ramai menimpakan kesalahan ini kepada pendidikan agama yang semestinya bisa memberikan kontribusi dalam menanamkan konsep nilai dan norma, serta nilai mental spiritual menjadi dipertanyakan oleh masyarakat.
            Sehubungan dengan pembahasan di atas, maka begitu pentingnya pendidikan agama diberikan di sekolah sebagai salah satu sentra pendidikan di samping pendidikan penunjang lainnya, seperti pendidikan keluarga dan pendidikan masyarakat.
c.       Tujuan Pendidikan Agama Hindu
            Petunuk teknis Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu di Sekolah Dasar (2004) menekankan bahwa : Tujuan mata pelajaran pendidikan agama Hindu  di Sekolah Dasar adalah membina siswa agar dapat memahami, mengahayati dan mengamalkan ajaran agama Hindu dengan baik, sehingga siswa memiliki moralitas yang tinggi, berbudi pekerti yang luhur, taqwa dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sadar terhadap hakikat hidup dan kehidupannya, berfikir yang filosofis, strategis dan dinamis, mampu mengembangkan dan menghargai kerjasama dengan orang lain serta dapat mencapai kesejahteraan hidup lahir dan bhatin.
1)      Tujuan Umum Pendidikan Agama Hindu
            Tujuan umum pendidikan agama Hindu adalah merupakan tujuan setiap agama dan juga pada setiap agama yang ada di Indonesia. Tujuan umum ini untuk seterusnya dijabarkan dan dipakai acuan ke dalam tujuan yang ada pada masing-masing agama. Secara umum tujuan agama adalah membentuk siswa yang berima dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkahlak serta berbudi pekerti yang luhur yang tercermin melalui kehidupan sehari-hari di masyarakat, melalui pengamalan agama masing-masing.
            Bertitik tolak dari pengertian dan fungsi pendidikan agama yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya pendidikan agama Hindu adalah suatu usaha atau upaya yang ditempuh untuk membina pertumbuhan pribadi yang mulia, baik yang berlangsung di lingkukngan keluarga maupun di lingkungan sekolah sebagai pendidikan formal. Sedangkan jika dilihat dari fungsinya, maka pendidikan agama Hindu disamping untuk meningkatkan ketaqwaan atau sradha bhakti serta meningkatkan keimanan para siswa juga menyalurkan para siswa untuk bisa mendalami bidang pendidikan agama Hindu dalam rangka memperbaiki kesalahan-kesalahan penanaman konsep agama di dalam kehidupan siswa sehari-hari di masyarakat.
2)      Tujuan Khusus Pendidikan Agama Hindu
            Dari tujuan umum, pengertian dan fungsi pendidikan agama Hindu di atas sebenarnya telah tersirat apa yang menjadi tujuan khusus pendidika agama Hindu, di samping untuk membentuk para siswa agar meiliki pribadi yang mulia juga membentuk sikap susila siswa untuk selanjutnya memiliki rasa bhakti trerhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini ditegaskan pula oleh pendapat Pudja (1985 : 9) bahwa pendidikan agama Hindu tidak hanya sekedar mengisi atau memindahkan pengetahuan agama yang dianutnya semata-mata, tetapi lebih jauh daripada itu dalah untuk meningkatkan ketaqwaan dan dharma bhaktinya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa.
            Selanjutnya Pendit (1983 : 14) menekankan bahwa pendidikan agama Hindu harus mampu membangun anak didik menjadi manusia yang mengerti, menghayati dan dapat merefleksikan pengetahuan yang dimiliki ke dalam cara berfikir, ucapan dan tindakan sehari-hari dalam lingkungan sekolah sebagai lingkungan terkecil atau primer, tempat menggali pengetahuan, begitu pula dalam lingkungan yang lebih luas yaitu masyarakat dimana anak itu berinteraksi.
            Mata pelajaran pendidikan agama Hindu adalah mata pelajaran agama yang pengajarannya menitik beratkan kepada pembentukan sikap mental yang baik. Kurikulum Pendidikan Dasar (2004) menekankan tentang tujuan pendidikan agama Hindu yang diharapkan dapat tercapai adalah :
(1)   Siswa memiliki pengetahuan dan keyakinan agama Hindu serta mampu melaksanakan konsep ajaran agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari yang dicerminkan dengan sikap taqwa kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa, saling menghormati dan kasih sayang sesama umat manusia. (2) Membentuk manusia yang utuh, susila dan bijaksana yaitu manusia yang dapat menghayati hakikat kehidupan ini (yang penuh dengan tantangan dan penderitaan), juga membentuk manusia yang mengetahui sebaqb musabab terjadinya penderitaan dan manusia yang yakin bahwa betapapun bentuk enderitaan akan dapat dilenyapkan, karena telah diketahui jalan yang dapat membebaskan manusia dari penderitaan itu, (3) Dengan menghayati dan mengamalkan ajaran agama Hindu diharapkan siswa dapat ditingkatkan kesadaran beragamanya. Melalui pendidikan agama Hidu dapat pula ditanamkan kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Untuk membentuk manusia Hindu yang bersusila serta memiliki iman taqwa atau sradha bahati  yang tinggi dibutuhkan adanya pendidikan agama Hindu, sehingga melalui pemahaman pendidikan agama Hindu yang benar akan menjadikan para siswa manusia yang bersusila dan (4) Pengetahuan yaitu untuk menangkal hal-hal yang negatif dari lingkungannya atau budaya aasig yang dapat membahayakan diri siswa serta menghambat perkembangan siswa menuju Indonesia seutuhnya serta (5) Penyesuaian, yaitu menyesuaikan diri dengan lingkungan fidik maupun lingkungan sosial sesuai dengan ajaran agama Hindu dan (6) Sumber nilai, yaitu memberikan pedoman untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat lahir dan bhatin. (Tim Penyusun, 2004 : 3).
            Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang menjadi tujuan khusus pendidikan agama Hindu yang diharapkan dapat tercapai melalui kurikulum pendidikan agama Hindu adalah :
      (1)   Siswa memiliki pengetahuan dan keyakinan agama serta mampu menerapkan konsep ajaran agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari yang tercermin dlam sikap taqwa kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa, melalui sikap saling hormaqt menghormati, kasih sayang terhadap semua mahluk ciptaan Tuhan dan sebagainya.
      (2)   Membentuk manusia seutuhnya, susila dan bijaksana yaitu manusia yang dapat menghayati hakikat kehidupan ini yang penuh dengan berbagai tantangan serta penderitaan, serta mengetahui sebab musabab terjadinya penderitaan itu akan dapat dilenyapkan, karena telah diketahui jalan yang dapat membebaskan mausia dari penderitaan.
      (3)   Dengan mengayati dan mengamalkan ajaran agama Hindu, diharapkan siswa dapat ditingkatkan kesadaran beragamanya, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pendidikan agama Hindu merupakan penuntun dan pedoman dalam menuntun sikap mental dan kepribadian yang baik, dalam kehidupan pribadi maupun dalam hubungannya dengan masyarakat, bangsa dan negara, serta alam sekitarnya (Tim Penyusun, 1999 : 21).
            Pendapat di atas didukung pula oleh pendapat yang dihasilkan berdasarkan Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu (1986 : 24) yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan agama Hindu di sekolah adalah sebagai berikut (1) membentuk manusia yang Pancasilais dan astiti bhakti, (2) membentuk moral  etika dan spiritual anak didik yang sesuai dengan ajaran Agama Hindu .
            Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa apa yang menjadi tujuan pendidikan agama Hindu jika dihubungkan dengan tujuan pendidikan secara umum akan menjadi selaras dan relevan. Dari rumusan tujuan pendidikan di atas nantinya secara hirarki dijabarkan ke dalam tujuan institusional (tujuan lembaga pendidikan) ke masing-masing mata pelajaran yang nantinya secara specifik dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler mata pelajaran, sehingga nantinya apa yang menjadi tujuan kurikulum dapat dijabarkan lagi secara lebih specifik.

d.      Pendidik atau Guru Pendidikan Agama Hindu
            Guru memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar. Guru sebagai pendidik atau pengajar merupakan faktor penentu kesuksesan setiap usaha pendidikan. Itulah sebabnya setiap perbincangan mengenai pembaharuan kurikulum pengadaan alat-alat belajar sampai kepada kriteria sumber daya mausia yang dihasilkan oleh usaha pendidikan selalu bermuara pada guru.
            Hal ini menunjukkan bahwa signifikasi posisi guru dalam dunia pendidikan (Syah 2002 : 233). Popham dan Baker (1992 : 1) menegaskan bahwa di dalam masyarakat dari yang paling terkebelakang sampai yang paling maju guru memegang peranan penting. Oleh karena itu guru merupakan yang merupakan salah satu unsur bidang pendidikan harus berperan secara aktif dan menempatkan dirinya sebagai tenaga pendidikan yang profesional sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin maju dan berkembang.
            Sudirman (1986 : 123) Mulyasa (2003 : 186-187) (dalam Depdiknas,   2004 : 7) menekankan bahwa guru perlu memiliki hal-hal sebagai berikut :
(1)   menguasai dan memahami bahan dan hubungan dengan bahan yang lain dengan baik (2) menyukai apa yang diajarkannya dan menyukai mengajar sebagai profesi (3) memahami peserta didik pengalaman kemampuan dan prestasinya (4) menggunakan metode yang bervariasi dala mengajar (5) mampu mengenaliminasi bahan-bahan yang kurang penting  dan kurang berarti (6) selalu mengkuti perkembangan pengetahuan mutakhir (7) proses pembelajaran selalu disiapkan (8) mendorong peserta didiknya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik (9) menghubungkan pengalaman yang lalu dengan bahan yang diajarkan. Dengan demikian guru perlu memberikanmotVasi kepada siswa untuk menggunakan otoritas atau haknya dalam membangun gagasan atau ide-ide di dalam belajarnya. Walaupun tanggung jawab belajar berada pada diri siswa, namun guru harus bertanggung jawab untuk mengarahkan belajar sepanjang hayat.
            Terkait dengan pengajaran pendidikan agama Hindu, pendidik atau guru pendidikan agama Hindu adalah merupakan salah satu komponen dalam proses pembelajaran. Guru atau pendidik mempunyai peranan yang sangat penting di dalam proses pendidikan, agar supaya pendidik dapat melaksanakan tugas pedagogis dengan sebaik-baiknya. Untuk itu agar dikatakan bahwa guru berperan sebagai pendidik yang profesional harus memenuhi beberapa syarat yaitu : (1) Syarat profesional (Ijazah), (2) Syarat biologis (kesehatan jasmani), (3) Syarat Psikologis (kesehatan mental) dan (4) Syarat Paedagogis (pendidikan). (Swarni, 1988 : 92).
            Berdasarkan pendapat di atas, maka syarat profesional (ijazah) untuk seorang guru pendidikan agama Hindu  di Sekolah Dasar adalah minimal Diploma Dua (S2) Agama Hindu.  Syarat biologisnya seorang guru harus dalam keadaan sehat jasmani agar dapat melaksanakan tugas dengan baik dengan semangat yang penuh vitalite. Guru hendaknya tidak mengalami cacat rohani dan jasmani karena  bisa brakibat tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik dan sempurna, serta syarat psikologis yang dimaksud adalah seorang guru harus dalam keadaan sehat mental dan syarat pedagogis dedaktis yang dimaksudkan adalah agar guru memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas. Disisi  lain selain syarat tersebut di atas, seorang guru juga diharapkan terampil dan cekatan dalam melaksanakan tugas kependidikannya (skill). Disamping hal tersebut diatas yang tidak kalah pentingnya adalah agar seorang guru agama Hindu harus menjadi panutan baik dalam berfikir, berbicara dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah, di sekolah maupun di masyarakat.
            Jika dikaitkan dengan konteks pendidikan formal jelas bahwa pendidikan agama tidak cukup hanya mengajarkan kepada siswa tentang aspek-aspek pengetahuan agama saja yang dikonfirmasikan dalam kurikulum, tetapi juga upaya transformasi pengetahuan sepanjang peluang yang ada dalam setting sekolah. Tujuannya adalah agar pada akhirnya nanti setelah para siswa menyelesaikan pendidikannya dapat menerapkan pengetahuan yang diperolehnya melalui pendidikan formal berupa penerapan dalam kehidupan yang nyata di masyarakat. Hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan di dalam petunjuk teknis Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu (1995 : 12) sebagai berikut sesuai dengan tujuan pendidikan agama Hindu yaitu utuk meningkatkan keimanan kepada Tuhan, mengembangkan moral yang baik, maka selayaknya guru lebih memperhatikan perubahan sikap dan prilaku siswa, bukan semata-mata penguasaan pengetahuan materi agama.
            Perlu dipahami bahwa guru dalam pembelajaran dapat menjadi sumber bantuan sekaligus sumber  kesulitan bagi siswa dalam belajarnya. Apakah guru bisa menjadi sumber bantuan atau sumber kesulitan didalam belajar siswa tentu sangat ditentuan oleh kualitas guru itu sendiri. Guru yang memiliki kualitas yang baik tentu akan menjadi pendorong dan dapat memotVasi siswa belajar dengan baik. Sebaliknya guru yang kualitasnya kurang tentu akan menyulitkan para siswanya sendiri dalam belajar. Dengan demikian ini berarti bahwa guru dapat menjadi salah satu faktor peyebab kesulitan belajar atau berinteraksi. Menurut Dalyono (2001 : 242-243) guru menjadi faktor penyebab kesulitan siswa apabila :
(1)   Guru tidak menguasai materi pelajaran dengan baik. Hal ini bisa terjadi kalau guru bersangkutan memegang mata pelajaran yang sesuai dengan vaknya, sehingga didalam mengajar ia akan nampak kurang persiapan, (2) guru tidak menguasai metode mengajar dengan baik, sehingga penjelasan yang diberikan kepada para siswa justru membingungkan siswa. Akibatnya para siswa pasif, tidak tertarik, bosan, jenuh bahkan bisa membenci mata pelajaran yang dipegangnya, (3) guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha mendiagnosis kesulitan belajar. Misalnya dalam menentukan bakat, minat, sifat, kebutuhan anak, dan sebagainya, (4) guru terlalau menuntut standar penguasaan kepada para siswa yang terlalu tinggi, yang berada diatas rata-rata kemampuan siswa sehingga siswa sulit memenuhi standard tersebut, (5) hubungan guru dengan siswa kurang baik, karena sinis, judes, tidak pernah tersenyum, sering mengejek, sering memarahi siswa dan sebagainya.
            Dengan penjelasan di atas maka terkandung pula maksud serta pengertian bahwa guru di sekolah bukan saja bertugas mengajar, tetapi juga harus mampu berperan sebagai pendidik. Sehubungan dengan pendapat di atas, maka dalam meningkatkan respon dan hasil belajar perlu mencermati pendapat di atas. Untuk mendapatkan respond an hasil belajar siswa yang maksimal maka digunakan metode Recourse-Based Leraning dalam proses pembelajaran di Kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

H. HIPOTESIS TINDAKAN
            Jika dalam proses pembelajaran pendidikan agama Hindu diterapkan metode Resource-Based Learning  dalam pelajaran agama hindu untuk meningkatkan respon  dan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung tahun pelajaran 2014/2015

I.                   LANDASAN TEORI
Sehubungan dengan pembahasan tentang teori ini, maka penulis akan mencoba mengemukakan beberapa pokok pemikiran dari beberapa teori yang akan dijadikan landasan berfikir. Hal ini mengacu kepada konsep bahwa teori dapat bertindak sebagai alat dalam ilmu pengetahuan. Teori mencoba menjawab pertanyaan mengapa (why) dan bagaimana (how). Teori dapat memberikan landasan penjelasan dan prediksi. Teori dalam pengertian ilmiah bertujuan hanya satu yaitu menjelaskan hubungan dari aktvitas yang diamati.
            Teori dapat juga dimanfaatkan untuk mensistematiskan dan mengorganisasikan pengalaman sehari-hari, serta dari kesisteman dan pengorganisasian pengalaman sehari-hari kemudian diharapkan dapat mengembangkan suatu hipotesa khusus yang diberikan kepada tes empirik melalui proses penelitian.
            Snelbecker (dalam Dahar,1989:1) berpendapat bahwa teori bukan hanya penting, tetapi vital bagi psikologi dan pendidikan, untuk maju dan berkembang serta memecahkan masalah-masalah yang ditemukan dalam setiap bidang itu.
            Terkait dalam hal tersebut berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan konsep yang telah ada, penulis mengupayakan untuk mengungkap beberapa pokok pikiran dari beberapa teori yang dijadikan sebagai landasan untuk berfikir. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori belajar Behaviorisme, Teori Sikap dan teori belajar Konstruktivisme. Ketiga teori diatas dipergunakan untuk mengkaji dan membedah permasalahan penelitian yang sedang dilaksanakan, sehingga nantinya diharapkan memperoleh hasil penelitian yang valid.
1.      Teori Behaviorisme
Teori behaviorisme yang disebut juga teori koneksionistis berpendapat bahwa dalam belajar Pendidikan Agama Hindu  bertumpu pada koneksi antara stimulus dan respon yang kemudian disusul dengan penguatan (reinforcemen). Teori ini dikembangkan dari hasil percobaan yang dilakukan oleh Pavlov dengan seekor anjing dan juga Skinner dengan burung merpatinya. Dari percobaan itulah ditarik teori belajar termasuk belajar agama, bahwa untuk menguasai ketrampilan itu, pebelajar harus mengikuti proses kaitan antara rangsangan (stmulus) dan tanggapan (respon). Proses belajar ini berlangsung secara berkelanjutan tau dilakukan berulang-ulang dan sutu saat diperlukan penguatan dan ganjaran. Teori ini menekankan betapa pentingnya masukan (input) karena input itu akan menjadi stimulus untuk merangsang terjadinya respon. Respon yang mungkin terjadi dapat bersifat negatif dan positif. Respon yang positif (reinforcement) yang cenderung diulangi sehingga terbentuknya suatu kebiasaan, sedangkan respon negatif cenderung tidak diulangi.
Teori behaviorisme itu (1) bersifat environmentalistik (environment atau lingkungan) artinya mementingkan pengaruh lingkungan. (2) bersifat elementeristik dalam arti mementingkan elemen-elemen atau unsur-unsur atau bagian-bagian. Belajar sesuatu melalui cara yang setapak demi setapak, sedikit demi sedikit adalah sebagian yang menunjukkan ciri pandangan ini. (3) mementingkan pembentukan kebiasaan (habit). Belajar apa saja haruslah melalui pembiasaan, melalui latihan-latihan intensif supaya orang menjadi terbiasa. Tentu saja kebiasaanitu haruslah melewati proses atau mekanisme stimulus–respon.(4) Pandangan ini memang mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar, melaui proses pembiasaan, dan stimulus – respon
Bertitik tolak dari pandangan behaviorisme ini, maka dalam belajar pendidikan agama Hindu  anak perlu diberi nasihat-nasihat secara berkesinambungan baik disekolah maupun secara informal di dalam keluarga, agar konsep, nilai yang diterima dapat meresap dalam jiwa anak sehingga akan membentuk sikap mental dan kepribadian anak didik.  
2.      Teori Sikap
            Sears, (dalam Azwar, 1995 : 80). Sikap adalah keadaan mental dan syaraf dari kesiapan yang diatur pengalaman yang memberikan pengaruh dan dinamik atau terarah terhadap respon indVidu sebagai objek dan situasi yang berkaian dengannya. Sikap digambarkan sebagai kesiapan yang selalu menanggapi dengan cara tertentu dan menekankan impikasi prilaku.
            Thurstone dan Osgodd (dalam Azwar, 1995 : 90) memberikan pengertian tentang sikap yaitu suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap objek adalah perasaan mendukung atau memihak ataupun perasaan tidak mendukung objek tersebut. Formulasi oleh Thurston sendiri mengatakan bahwa sikap adalah derajat efek positif atau negatif yang dikaitkan oleh suatu objek psikologis, sikap sebagai suatu prilaku, kesiapan antisipatif untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial. Sikap terbentuk dari adanya interaksi sosial indvidu dengan orang lain. Interaksi sosial mengandung arti lebih dari sekedar kontak sosial. Dalam interaksi sosial, terjadi bimbingan saling pengaruh mempengaruhi antar indVidu satu dengan indvidu yang lain.
            Dalam kaitannya dengan pelitian yang dilaksanakan ini, teori sikap digunakan sebagai landasan berfikir untuk dalam mengunakan metode Resourse-based Lerarning terutama bagi guru-guru untuk dijadikan panutan yang ditampilkan oleh guru pendidikan agama Hindu khususnya dan guru-guru yang lainnya sebagai alat untuk meningkatkan respon dan hasil belajar pendidikan agama Hindu Siswa Kelas V SD Negeri I Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.
2 Teori  Konstruktivisme
Teori konstruktivisme digunakan dalam penelitian ini, berpijak dari pandangan yang mengatakan bahwa bahwa konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah konstruksi ( bentukkan ) kita sendiri. Piaget (dalam Dahar,1989:161) menegaskan bahwa anak-anak memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah, dan pendidikan seharusnya memperhatikan hal itu dan menunjang proses alamiah ini. Sedangkan Piaget (dalam Suparno,1996:18) pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari pengamat tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalaman atau Dunia sejauh dialaminya. Proses pembentukan ini berjalan terus menerus dengan setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru.
Bertolak dari pandangan konstruktivisme di atas, maka dalam setiap proses pembelajaran Pendidikan Agama Hindu yang dilaksanakan para siswa harus mampu membentuk pengetahuannya sendiri melalui proses pembentukan skema, kategori, konsep dan struktur pengetahuan yang diperlukan. Para siswa perlu dirangsang untuk mampu mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang diperolehnya melalui interaksi dengan lingkungannya, sehingga para siswa mampu memahami konsep,menciptakan  struktur mental dan menerapkannya dalam pengalaman belajar Pendidikan agama Hindu, sehingga para siswa menjadi aktif dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Kemudian hasil interaksi dengan lingkungannya tersebut  ditransformasi ke dalam fikirannya dengan bantuan struktur yang telah ada sebelumnya.
Togin (1990:76) menyatakan bahwa : Teori kontruktvisme berpendapat bahwa proses pembelajaran adalah memberikan tekanan kepada pengkontruksian makna pengetahuan yang telah ada sebelumnya dan input-input sensor yang baru serta menekankan pada hubungan-hubungan oleh siswa didalam mengkonstruksi makna. Proses konstruksi makna bisa terjadi antara ide-ide yang telah mereka miliki dan input-input yang dipilih. Dapat juga terjadi antara pengalaman mereka sebelumnya dalam dunia mereka sehari-hari dan ide-ide baru yang mereka ditemukan di sekolah. Belajar menurut pandangan konstruktivisme merupakan modifikasi dari ide-ide yang ada pada diri siswa, karena itu belajar adalah suatu pembentukan pengertian dan pengalaman-pengalaman dalam hubungannya dengan pengetahuan sebelumnya
            Jadi sehubungan dengan penelitian yang dilaksanakan ini, teori belajar konstruktivisme mengharapkan siswa mampu mengkonstruksi pengetahuan yang diperolehnya dari guru, dengan tidak terlepas dari proses pengamatan manusia itu sendiri, Pengkonstruksikan pengetahuan oleh manusia dipengaruhi atas pengalaman manusia sejauh mana ia mengalaminya. Dalam mengkonstruksi pengetahuan pendidikan Agama Hindu, pebelajar perlu mendapatkan pengalaman dalam menemukan suatu konsep atau prinsip, termasuk melalui penerapan metode pemecahan masalah..
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang pelaksanaannya berupa sajian atau latihan di lapangan. Arikunto (2006:91) menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan, dan terjadi dalam sebuah kelas. Penelitian tindakan kelas ini secara umum bertujuan meningkatkan dan memperbaiki kualitas pada proses di kelas yang bermuara pada peningkatan kompetensi dari siswa.
2. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah semua siswwa kelas V di SD Negeri 1 Tanjung Benoa Tahun 2014/2015. Banyak siswa yang menjadi subjek penelitian adalah 20 orang yang terdiri 8 orang siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Dengan rincian sebagai berikut;
3. Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini meliputi aktivitas, prestasi belajar dan respon siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu. Prestasi belajar siswa yang dimaksud adalah skor rata-rata yang diperoleh dari tes perestasi belajar yang diberikan pada setiap akhir siklus pembelajaran
4. Rancangan Penelitian
Berkenaan dengan mata pelajaran yang disasaran, maka penelitian ini bertujuan memperbaiki aktivitas proses belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu melalui penerapan metode resource-based learning. Penelitian ini mempergunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas Model Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto, 2006:93) terdiri dari empat tahap yaitu: 1) tahap perencanaan, 2) tahap pelaksanaan tindakan, 3) tahap observasi, 4) tahap refleksi. Untuk lebih jelasnya tentang prosedur tindakan kelas yang akan dilaksanakan, dapat dilihat
pada bagan berikut:
Refleksi Awal

Perencanaan Tindakan

Refleksi I

Pelaksanaan Tindakan

Perencanaan Tindakan

Refleksi II

Pelaksanaan Tindakan

Laporan

Observasi/Evaluasi I

Observasi/Evaluasi II
Gambar 3.1 Desain  Penelitian Tindakan TQM

5. Tempat Penelitian
Penelitian ini mengambil tempat SD Negeri 1 Tanjung Benoa yang berlokasi di Desa Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.
6. Prosedur Pelaksanaan Tindakan
Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan dari bulan Oktober 2014 sampai bulan Desember 2014 dengan persiapan – persiapan yang lebih baik untuk mencapai hasil yang memuaskan, maka peneliti menggunakan dua siklus yaitu: siklus pertama dilaksanakan dalam tiga pertemuan. Pada siklus kedua dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan. Masing-masing siklus dikembangkan menjadi empat tahapan yaitu sebagai berikut:
a.  Siklus I
1. Perencanaan Tindakan
a. Pertemuan Pertama
            Pada tahap ini, adapun kegiatan yang di lakukan oleh peneliti dengan guru secara kolaboratif adalah kegiatan sebagai berikut:
(1)  Mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
(2)  Menyiapakan materi pelajaran yang akan disajikan.
(3) Menyiapakan lembar kerja yang berisikan permasalahan yang berhubungan dengan materi
(4)  Membuat kisi-kisi soal
(5)  Mempersiapkan lembar observasi
(6)  Menyusun tes hasil belajar
a.         Perancanaan Pertemuan Kedua
Kegiatan yang dilakukan oleh peneliti dan rekan guru adalah sebagai berikut:
(1)  Mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
(2)  Menyiapakan materi pelajaran yang akan disajikan.
            (3) Menyiapakan lembar kerja yang berisikan permasalahan yang berhubungan dengan materi pelajaran
(4)  Mempersiapkan lembar observasi
2. Pelaksanaan Tindakan
Setelah rencana di tetapkan, selanjunya dilakukan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan metode resource-based learning yang dilengkapi dengan referensi sebagai pendukung dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
a.                   Pelaksanaan Pertemuan Pertama
b.                  Pelaksanaan Pertemuan Kedua
c.                   Pelaksanaan Pertemuan Ketiga
1.      Observasi dan Evaluasi
Pelaksanaan observasi dilakukan selama guru melaksanakan pembelajaran pendidikan agama hindu. Semua aktivitas belajar siswa dicatat dalam lenbar observasi. Beberapa hal yang menjadi pengamatan yaitu kerjasama siswa dalam kelompoknya untuk memecahkan suatu permasalahan, keberanian siswa dalam mengeluarkan pendapat dan bertanya, pembagian tugas dalam kelompok, serta merumuskan suatu simpulan.
Evaluasi dapat dilaksanakan pada akhir siklus. Evaluasi dengan memberikan tes hasil belajar dalam bentuk pilihan ganda yang berjumlah 15 item.
2.            Refleksi
Refleksi dilakukan terhadap tindakan hasil observasi dan evaluasi dengan menilai dan mengidentifikasi hasil yang dicapai pada siklus II. Sebagai dasar refleksi ini adalah hasil observasi tentang motivasi dan dan hasil tes belajar siswa. Hasil kegiatan ini dijadikan dasar peluang penerapan metode resource-based learning dalam pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama hindu
b. Siklus II
Pada siklus II, tindakan dibagi dalam tiga kali pertemuan. Tindakan yang diberikan di siklus II sama dengan tindakan yang diberikan pada siklus I, akan tetapi dengan kelompok yang berbeda. Kelompok-kelompok ini dibentuk berdasarkan nilai tes hasil belajar siswa di siklus I. Adapun perincian kegiatan yang dilaksanakan dalam siklus II yaitu:
1.   Perencanaan Tindakan
a.  Perencanaan Pertemuan Pertama
Pada tahapan ini kegiatan yang akan dilakukan oleh peneliti bersama dengan rekan guru secara kolaboratif adalah sebagai berikut:
(1)  Mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
(2)  Menyiapakan materi pelajaran yang akan disajikan.
(3)  Membuat kisi-kisi soal
(4)  Mempersiapkan lembar observasi
(5)  Menyusun tes hasil belajar
b. Perencanaan Pertemuan Kedua
Kegiatan yang dilakukan oleh peneliti dengan rekan guru adalah sebagai berikut:
(1)  Mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
(2)  Menyiapakan materi pelajaran yang akan disajikan.
(3)  Mempersiapkan lembar observasi
2. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan pada pelaksanaan tindakan adalah melaksanakan kegitan pembelajaran sesuai dengan perencanaan yakni:
a. Pelaksanaan Pertemuan Pertama
b.Pelaksanaan Pertemuan Kedua
c. Pelaksanaan Pertemuan Ketiga
3. Observasi dan Evaluasi
Pelaksanaan observasi dilakukan selama guru melaksanakan pembelajaran di masing-masing siklus.
Evaluasi dapat dilaksanakan pada akhir siklus. Evaluasi dengan memberikan tes hasil belajar dalam bentuk pilihan ganda yang berjumlah 15 item pada setiap akhir pelajaran akademik.
4. Refleksi
Refleksi dilakukan terhadap tindakan hasil observasi dan evaluasi dengan menilai dan mengidentifikasi hasil yang dicapai pada siklus II. Sebagai dasar refleksi ini adalah hasil observasi tentang motivasi dan dan hasil tes belajar siswa. Hasil kegiatan ini dijadikan dasar peluang penerapan metode resource-based learning dalam pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama hindu.
3.  Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang di pergunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Metode Observa                         Observasi adalah suatu usaha pengumpulan data dengan pengamatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam penelitian ini menggunakan metode observasi berperan serta untuk mengumpulkan data mengenai motivasi siswa dalam proses pembelajaran. Hal-hal yang perlu diamati dalam penelitian ini seperti siswa bertanya pada guru, mengajukan pendapat, diskusi dalam pemecahan masalah, mengerjakan tugas yang diberikan guru, membuat suatu simpulan dan bekerja sama antara siswa dalam kelompok.
b. Metode Tes
Metode tes dalam kaitannya dengan penelitian ini adalah cara memperoleh data yang berbentuk suatu tugas yang harus dikerjakan oleh seorang atau kelompok orang yang dites, dan dari tes ini menghasilkan skor, dan selanjutnya sekor tersebut dibandingkan dengan suatu kreteria atau standar tertentu. Tes yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa tes hasil belajar yang jumlah soalnya 15 item berupa pilihan ganda.
c. Metode Wawancara
Metode wawancara adalah untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dalam penelitian ini, wawancara dilaksanakan oleh peneliti terhadap guru. Data yang diambil dalam wawancara ini adalah mekanisme pembelajaran, dan proses belajar mengajar dengan penerapan metode resource-based learning
4.   Teknik Analisis Data
Dalam pengumpulan hasil analisis merupakan pengambilan inti dari sajian data yang telah terorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau kalimat singkat, padat, dan bermakna.
Skor yang diperoleh dianalisis dengan bantuan statistik deskriptif dasar dengan ketentuan rumusan sebagai berikut : menentukan M (rata-rata kelas), daya serap (DS), Ketuntasan belajar (KB) dapat dicari dengan rumusan sebagai berikut:
( M ) =
Keterangan
M = Mean atau rata – rata  kelas
 jumlah  nilai seluruh siswa
N     =  Jumlah siswa
Untuk  mencari daya serap  dapat digunakan rumus sebagai berikut :
( DS) =  x 100%
DS = Daya Serap
M  = Mean atau rata – rata kelas
Untuk mencari ketunasan belajar (KB)  = jumlah siswa tuntas belajar    x 100 % 
                                                                    jumlah siswa keseluruhan

 Rentangan untuk mengukur hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan skala lima pada tabel berikut:
Tabel Konversi skor Hasil Belajar
No
Rentang Nilai
Kategori Nilai
Keterangan

(1)
(2)
(3)
(4)
1
2
3
4
5
86-100
70-85
56-69
41-55
0-40
A
B
C
D
E
Baik Sekali
Baik
Cukup
Kurang
Kurang sekali
















DAFTAR PUSTAKA

            Arikunto, Suharsini. 1998, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan  Praktek . Jakarta : Rineka Cipta.
Aryani, Ni Wayan. 2000. Penerapan Metode Media Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Matematika Pada Siswa Kelas I Catur Wulan 3 SD Nomor 1 Paket Agung Kecamatan Buleleng Tahun Ajaran 1999/2000. Skripsi Tidak diterbitkan. Jurusan Ilmu Pendidikan STKIP Singaraja.
Dahar. R.W. 1989.  Teori – Teori belajar, Jakarta : Erlangga.
Djamarah, Shaiful Bahri dan Zain Aswan, 1995. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta
Hadi, Sutrisno. 1991. Statistik. Yogyakarta : Yogyakarta :Fakultas Psikologi UGM
Hamalik, Oemar. 1986. Media Pendidikan. Bandung : Alumni Bandung
Ida Bagus Eka Permana. 2008. Penerapan Metode Pembelajaran CTL dalam Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Hindu Siswa Kelas XI IPA 3 SMA Dwijendra Denpasar Tahun Pelajaran 2007/2008. Skripsi (tidak diterbitkan)
Kanianta, I Ketut. 2000. Penerapan Bebrapa Metode Mengajar dan Media Pengajaran Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belaajr Siswa Pada Bidang Studi Plaming Dalam Pelajaran Menyamung Pipa Galvanis di Kelas I Semester I Jurusan Bangunan Gedung SMK Negeri 3 Singaraja Tahun Pelajaran 2000/20001.Skripsi tidak diterbitkan. Jurusan Ilmu Pendidikan STKIP Singaraja.
Kerlinger. F.N. 2002. Asas-Asas Penelitian Behavioral. Terjemahan Landung R Simatupang. Foundation of  Behavioral Research. 1964. Cetakan ke-8. New York : Holt Rinehart and Winston.
Mudjiono, Dimyati. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakrta : Rineka Cipta.
Nasution. 1982. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar dan Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
Sudjana, Nana. 2000. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. Sinar Baru.
Sudjana, Nana. 2004. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sukardi. 2004. Metodelogi Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Bumu Aksara.